Desa Penghasil Jenang

Desa Karangduren, Kecamatan Tengaran

468
PROSES PENGOLAHAN : Suyatno (45) mengaduk jenang agar dapat tercampur dengan baik dan tidak gosong. Jenang di Desa Karangduren dibuat tanpa menggunakan bahan pengawet
PROSES PENGOLAHAN : Suyatno (45) mengaduk jenang agar dapat tercampur dengan baik dan tidak gosong. Jenang di Desa Karangduren dibuat tanpa menggunakan bahan pengawet

TENGARAN – Desa Karangduren, Kecamatan Tengaran memiliki produk unggulan berupa jenang. Jenang hasil olahan warga desa karangduren ini sudah dipasarkan ke sejumlah Kota seperti, Salatiga, Semarang, Grobogan dan beberapa kota lainnya.

Priyo Pamujo, Kades Karangduren mengatakan, di Desa ini terdapat sedikitnya 40 usaha rumahan pembuat makanan ini. Para pengusaha ini, diakomodir dalam satu kelompok pembuat jenang dengan nama Mega Jenang.

Priyo Pamujo (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
Priyo Pamujo (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

Oleh kelompok ini, penjualan jenang warga desa Karagduren dilakukan pembagian wilayah. Sehingga, tidak ada persaingan antar sesama anggota untuk memperebutkan pasar atau tempat penjualan jenang mereka.”Sudah dibagi-bagi wilayahnya. Sehingga sudah memiliki pasar sendiri-sendiri selain masih melayani juga pesanan dari orang untuk punya hajatan contohnya,” jelas Priyo.

Dikatakan olehnya, pembuatan jenang di desa ini masih dikerjakan dengan cara tradisional atau belum menggunakan mesin. Selain itu, jenang di desa ini juga dibuat tanpa menggunakan bahan pengawet. ”Sehingga rasanya mungkin berbeda dengan yang lainnya,” jelas Priyo kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Diceritakan Priyo, dulu di Desa ini hanya terdapat satu pembuat jenang. Seiring dengan banyaknya permintaan dan keinginan warga untuk berusaha, kini pembuat jenang di desa ini sudah semakin banyak.

Berkembangnya usaha ini, dinilainya cukup positif. Sebab, selain menumbuhkan pengusaha baru, usaha ini juga mampu menyerap tenaga kerja dari warga desa Karangduren. ”Awalnya bekerja, kemudian membuka usaha sendiri. Kami berharap mereka kemudian menjadi pengusaha-pengusaha baru,” kata dia.

Sejumlah upaya telah dilakukan pemerintah desa untuk membuat pemasaran jenang dari desa ini semakin meluas. Salah satunya adalah dengan menggandeng mahasiswa KKN untuk memberikan pelatihan dalam pengemasan.

”Di sini penjualannya masih dalam bentuk gelondongan besar gitu. Saya pikir dengan pengemasan yang menarik akan beda ya dalam pemasaran. Tapi kebanyakan masih memilih jual gelondongan itu,” kata dia.

Sementara itu, Hasyim, (49) salah satu pengusaha jenang di Desa ini mengatakan bahwa usaha yang dijalankan selama ini hanya terkendala persoalan pengawet. Dirinya dan pengusaha lainnya belum menemukan formula untuk membuat jenang dari desa Karangduren ini bisa tahan lama.”Soalnya di sini pembuatannya masih alami, tanpa pembuatan pengawet sama sekali. Sehingga umurnya dalam hitungan hari saja. Tidak bisa seperti yang ada di tempat lain,” kata dia.

Baik Priyo maupun hasyim berharap agar keberadaan jenang di Desa Karangduren ini bisa mendongkrak perekonomian warga, sehingga warga bisa sejahtera melalui usaha pembuatan jenang ini. (sga/bas)