JAUH DARI TARGET: Proyek revitalisasi Pasar Simongan, Semarang Barat yang masih tahap pemasangan kerangka baja. (kiri) Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Joko Santoso, saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di lokasi pembangunan Jalan WR Supratman. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
JAUH DARI TARGET: Proyek revitalisasi Pasar Simongan, Semarang Barat yang masih tahap pemasangan kerangka baja. (kiri) Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Joko Santoso, saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di lokasi pembangunan Jalan WR Supratman. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANGSedikitnya lima proyek infrastruktur di Kota Semarang terancam molor alias tidak bisa selesai sesuai kontrak waktu yang ditetapkan. Proyek tersebut rata-rata memiliki kontrak waktu hingga pertengahan Desember 2017. Tetapi hingga kini belum ada progres menggembirakan, bahkan rata-rata realisasi baru mencapai 50 persen.

Kelima proyek tersebut adalah proyek pelebaran jalan dan pedestrian Jalan WR Supratman Semarang Barat, proyek Jalan Gotong Royong, pembangunan Pasar Simongan, pembangunan Taman Balai Kota, dan pembangunan Gedung Parkir Balai Kota.

“Proyek pelebaran jalan dan pedestrian di Jalan WR Supratman Semarang Barat ini saja telah melewati batas akhir waktu kontrak, yakni tanggal 12 Desember 2017, seharusnya telah diselesaikan. Namun hingga kini belum selesai,” kata Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Joko Santoso, saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di lokasi pembangunan, Kamis (14/12).

Tampak sejumlah pekerja masih melakukan aktivitas, baik pengecoran pembatas jalan maupun pembuatan pedestrian. Pembangunan jalan sepanjang 600 meter dengan lebar 18 meter ini baru terealisasi kurang lebih 50 persen. Tentu saja proyek ini di ujung tanduk dan terancam tak bisa diselesaikan.

“Ini sangat disesalkan. Proyek Jalan WR Supratman ini anggarannya kurang lebih Rp 11 miliar, tetapi lelang dimenangkan Rp 8,5 miliar. Pemenang lelang tidak melihat bagaimana upaya penyelesaian pekerjaaan ini dengan baik,” ujar Joko.

Dikatakannya, jika proyek tersebut tidak bisa diselesaikan hingga akhir Desember mendatang, maka proyek terancam mangkrak. “Jika tidak selesai ya terancam mangkrak, dan baru bisa dilanjutkan di anggaran perubahan 2018 atau 2019,” katanya.

Pihaknya menyayangkan, PT Dinamika Persada Sehati selaku kontraktor pelaksana tidak bisa memperhitungkan waktu kontrak yang ditetapkan. “Ini merusak anggaran Kota Semarang. Jangan sampai mengacaukan masyarakat, karena kekurangan 50 persen tidak mungkin terselesaikan. Maka akan mengakibatkan proyek ini mangkrak, fasilitas jalan umum ini tidak bisa digunakan sesuai rencana. Apabila tidak bisa selesai, maka kontraktor tersebut wajib di-blacklist,” tegasnya.

Ironisnya, selain proyek pelebaran jalan dan pedestrian Jalan WR Supratman Semarang Barat, ada dua proyek lain yang dikerjakan menggunakan bendera PT Dinamika Persada Sehati, juga terancam tidak selesai, yakni pembangunan Jalan Gotong Royong dan proyek revitalisasi Pasar Simongan.

Pembangunan Pasar Simongan yang terletak di Jalan Srinindito Selatan RT 1 RW 1, Ngemplak Simongan, Semarang Barat juga masih jauh dari target penyelesaian. “Nilai kontrak proyek Rp 5.451.699.00 dengan waktu pelaksanaan 70 hari kalender, terhitung mulai 18 Oktober hingga 26 Desember 2017 mendatang. Pembangunan ini juga terancam tidak bisa diselesaikan hingga akhir Desember,” kata Joko.

Pihaknya mendesak agar Pemkot Semarang melakukan evaluasi mengenai penetapan kontrak. Ia mempertanyakan mengapa meloloskan kontraktor yang kinerjanya tidak bagus. “Ini merusak anggaran Kota Semarang,” tandasnya.