PENGGALIAN: Warga Gringsing berkumpul di lokasi pembongkaran mayat korban kedua dukun palsu pengganda uang di Dukuh Sambungrejo, Desa Sawangan, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang Jawa Tengah. (ISTIMEWA)
PENGGALIAN: Warga Gringsing berkumpul di lokasi pembongkaran mayat korban kedua dukun palsu pengganda uang di Dukuh Sambungrejo, Desa Sawangan, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang Jawa Tengah. (ISTIMEWA)

BATANG—Polsek Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, kembali mengungkap korban dukun palsu, Muslimin. Korban bernama Slamet alias Sugeng, 50, warga Dukuh Sambungrejo, Desa Sawangan.

Selama ini, keluarga menduga korban sedang bekerja di Malaysia, menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Yang terjadi, sejak 3 tahun lalu, Slamet sudah menjadi korban pembantaian sang dukun palsu dan mayatnya dikubur pelaku di Alas Roban.

Pengungkapan kasus tersebut, hasil interogasi tim Buser Polres Batang kepada istri tersangka, Muslimin. Istri Muslimin mengakui suaminya pernah berhubungan dengan korban. Tepatnya, dalam usaha peternakan ayam. Di desanya, korban dikenal sebagai pebisnis ayam.

Ketua RT 01/RW 03 Dukuh Sambungrejo, Desa Sawangan, Kuswanto, Kamis (14/12), menuturkan, pelaku pernah dipercaya oleh korban untuk mengelola petenakan ayam. Namun tiba-tiba, Slamet menghilang, sehingga usaha ternak ayamnya bangkrut.

Istri dan keluarga korban menyangka Slamet  pergi ke Malaysia menjadi TKI.  Untuk menyambung hidup, istri korban bekerja di Jakarta, untuk menghidupi anak-anaknya. “Anak korban semuanya perempuan. Yang  pertama sudah kerja, yang kedua baru SMP.”

Mendengar kabar suaminya menjadi korban dukun palsu, istri Slamet pada  Rabu (13/12) kemarin, pulang kampung. “Hari ini sudah ada  di rumah.”

Kapolsek Gringsing, AKP Sugianto mengatakan, tidak menutup kemungkinan, jumlah korban akan bertambah. Modus pelaku membantai korban, karena ingin menguasai sepeda motor milik Slamet. Alasannya, sebagai  ganti upah yang selama beberapa bulan mengurus ayam, namun dibayar oleh korban.  “Pelaku bisa dikategorikan sebagai psikopat. Karena merasa tenang dan beraktivitas normal saja,” ucapnya, Kamis (14/12).

Seperti pada kasus pertama, pihak keluarga korban juga tidak melapor, meski tiga tahun tidak mendengar kabar kondisi suaminya. “Saat ini istri dan anak tersangka kami amankan guna penyidikan. Kami mengimbau agar masyarakat segera melapor, jika ada keluarga yang pergi tanpa pamit dan tanpa kabar.” (han/isk)