Hanya Butuh 52 Detik, Bongkar Pasang Senjata Baru

Mengenal Bripda Astrid Pradhita, Juara I Ketangkasan Bongkar Pasang Senjata

434
TANGKAS : Bripda Astrid Pradhita, anggota tim elit Shabara Polrestabes Semarang yang piawai mengoperasikan senjata api. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TANGKAS : Bripda Astrid Pradhita, anggota tim elit Shabara Polrestabes Semarang yang piawai mengoperasikan senjata api. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Melakukan bongkar dan pasang senjata api dalam hitungan detik, pastinya bukan perkara mudah. Apalagi dengan kecepatan tangan. Tapi, Bripda Astrid Pradhita, anggota Shabara Polrestabes ini hanya membutuhkan waktu 52 detik. Seperti apa?

M HARIYANTO

BRIPDA Astrid Pradhita, tim elit Shabara Polrestabes Semarang, kelahiran Sragen, 20 April 1993 ini, benar-benar piawai, sangat tangkas dan cepat dalam bongkar pasang senapan laras panjang. Hal itu telah dibuktikan dalam ajang perlombaan adu kecepatan dan ketangkasan bongkar pasang senapan laras panjang yang dilaksanakan Polrestabes Semarang, bulan Juni 2017 lalu.

Bahkan, kala itu Polwan Bripda Astrid berhasil menyingkirkan 33 anggota Polwan maupun 33 polisi di jajaran Polrestabes Semarang. Pada babak final, berhasil mengalahkan dua anggota Polwan lainnya yakni Bripka Silvi, anggota Polsek Semarang Tengah dan Brigadir Febrina, anggota Bagian Sumda Polrestabes Semarang.

Dengan kelincahan tangannya, anggota Polwan yang akrab disapa Astrid ini, mampu menyelesaikan bongkar pasang senjata jenis SS1 V2 Sabhara dengan waktu tidak sampai 53 detik. Aksinya tersebut membuat decak kagum ratusan anggota lain yang memadati lokasi kejuaraan kala itu. “Hitungannya 52,89 per second atau 52 detik,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang di halaman Mapolrestabes Semarang.

Astrid mengaku tidak menyangka telah memenangkan perlombaan tersebut. Pasalnya, para peserta lain juga memiliki skill yang kuat dalam penguasaan senjata. Karena memang, anggota Polwan yang bertugas di Shabara mendapatkan pelatihan penguasaan dan pengetahuan senjata, termasuk latihan menembak. Sedangkan dalam kejuaraan, senjata yang dimainkan tidak seperti biasanya, yakni senjata laras panjang jenis SS1 V2 Sabhara. “Senjata memang sudah akrab. Tapi untuk bongkar pasang senjata baru, memang memerlukan konsentrasi untuk ketenangan,” ujarnya.

Astrid mengakui, tidak setiap hari dilakukan latihan menembak. Karena latihan menembak, membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk keperluan membeli amunisi. Namun demikian, latihan tetap dilakukan meski harus mengocek uang pribadi, demi prestasi dan karir. “Latihan menembak memang tidak dilakukan rutin. Biasanya habis PH, saya latihan dengan anggota lainnya. Tapi kalau ingin latihan pribadi di Lapangan Akpol, mengeluarkan uang pribadi untuk beli peluru,” terangnya.

Perempuan yang resmi menjadi anggota Polwan sejak tahun 2013 ini, sebelumnya ditempatkan di Polda Jateng. Ia mendapat tugas menjadi pengasuh Brigadir Polda di Purwokerto. Kemudian tak berapa lama, Telegram Rahasia turun, Atsrid dipindah tugas menjadi anggota Shabara Polrestabes Semarang dan masuk menjadi tim elit Shabara.