33 C
Semarang
Kamis, 13 Agustus 2020

Turun Temurun, Penuhi Kebutuhan Semarang dan Sekitarnya

Melongok Kampung Sentra Kulit Lunpia

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Sebagian warga Kampung Kranggan Dalam berprofesi sebagai pembuat kulit lunpia. Produk usaha mikro tersebut tak hanya didistribusikan pada produsen lunpia di Semarang, tapi hingga beberapa kota lain. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

ADONAN kulit lunpia, wajan lengkap dengan tiga kompor memenuhi teras rumah Sapto. Ya, pagi hingga siang, salah seorang warga Kranggan Dalam ini aktif memproduksi kulit lunpia. “Sudah 25 tahun saya menekuni usaha pembuatan kulit lunpia,” ujarnya saat ditemui oleh Jawa Pos Radar Semarang, baru-baru ini.

Pria berusia 42 tahun ini mengaku mengenal ketrampilan membuat kulit lunpia dari sang ibu. Mulai dari takaran bahan, pembuatan adonan hingga menjadi kulit lunpia. Selain Sapto, dua adiknya juga ikut menekuni usaha tersebut. “Ketrampilannya ya turun temurun. Saya dari ibu. Lihat caranya, belajar, lalu bikin sendiri untuk dijual,” ujarnya.

Selain Sapto, ada juga Yono. Pria berusia 38 tahun ini juga mengaku sudah sekitar 20 tahun menekuni usaha pembuatan kulit lunpia. Tiap hari, menghabiskan waktu sekitar 5 jam, ia bisa menghasilkan antara 1.200 – 1.500 lembar kulit lunpia. “Keseharian memang bikin kulit lunpia. Tapi tidak sehari penuh, jadi masih bisa disambi pekerjaan lain,” ujar bapak satu anak ini.

Lembaran kulit lunpia produksi mereka ini dapat bertahan antara 3-5 hari. Oleh karena itu, begitu jadi, segera dipasarkan ke para pelanggan dan pemesan yang umumnya produsen lunpia baik dalam kota maupun luar Semarang. “Disetorkan ke toko-toko yang jual lunpia. Per bungkus isi 100, dengan harga beragam, tergantung ukuran,” ujarnya.

Meski terlihat mudah, ternyata pembuatan adonan harus tepat. Kualitas dan takaran terigu maupun takaran bumbu yang tidak tepat, akan menjadikan adonan gagal. Begitu juga dengan proses pemasakannya. “Kalau terigunya jelek atau takarannya salah, nanti bolong-bolong jadinya. Tidak bisa rata. Sama juga kalau pas ditaruh ke wajan, harus pas dan cepat agar tidak gosong,” ujarnya.

Ada juga Jeffry yang mulai ikut menekuni usaha pembuatan lunpia sejak setahun lalu. Awalnya, usaha ini hanya dikerjakan oleh sang istri, namun karena terkena efisiensi tenaga kerja, Jeffry mulai ikut membantu usaha tersebut. “Ya lumayan sehari 1000-2000 lembar pesanan,” ujarnya.

Lurah Kranggan, Agus Witanto menambahkan, setidaknya 35 warga di perkampungan tersebut bermata pencaharian sebagai pembuat kulit lunpia. Hasil produksi mereka didistribusikan untuk memenuhi permintaan produsen lunpia di Semarang dan sekitarnya. Oleh karena itu, perkampungan yang tak jauh dari kawasan Pecinan ini sering disebut sebagai sentra pembuatan kulit lunpia. “Sebagian besar mempelajari ketrampilan secara turun temurun. Nah, kami dari pemerintah berupaya mendorong para perajin tersebut untuk menjaga higienitas dalam proses produksi,” ujarnya. (*/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Olah Menu Nusantara dengan Konsep Western

Bertepatan dengan tahun kedua berdirinya Nestcology sejak 2015 lalu, kafé ini menawarkan konsep baru dan sejumlah varian menu dengan tema Gastroversity. Kafé yang berada...

Pedagang Ikan Tak Mau Pindah

SEMARANG – Berulangkali negosiasi, polemik pemindahan pedagang ikan basah Pasar Rejomulyo Semarang masih saja belum berhasil. Para pedagang tetap tidak mau pindah selama tuntutannya...

Sulap Tanah Mangkrak Jadi Tempat Wisata

TENGARAN – Desa Nyamat, Kecamatan Tengaran sedang dalam upaya menciptakan tempat wisata di daerahnya. Sebuah tanah Desa yang sebelumnya tidak terawat, oleh Kepala Desa Nyamat...

Misi Jinakkan Kuda Hitam

SEMARANG-Laga lanjutan babak 16 besar Grup B akan kembali dilakoni tim PSIS Semarang. Senin (25/9) sore ini, tim berjuluk Mahesa Jenar ini akan melakoni...

Jalan Diblokade, Pengembang Nyerah

"Jika pengembang ingkar janji, jangan salahkan kami jika warga berbuat hal yang lebih nekat.” Sunaryanto Kades Babadsari KEBUMEN—Perwakilan pengembang akhirnya berjanji segera merealisasikan tuntutan masyarakat Desa...

Siapkan 2300 Relawan Perempuan Siaga

SEMARANG - Setidaknya 2.300 perempuan di Jateng dikumpulkan dan digembleng menjadi perempuan siaga. Mereka mendapatkan pelatihan langsung yang digelar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jateng...