Turun Temurun, Penuhi Kebutuhan Semarang dan Sekitarnya

Melongok Kampung Sentra Kulit Lunpia

312
HARUS TEPAT DAN PAS : Salah seorang warga Kampung Kranggan Dalam sedang membuat kulit lunpia. (NURUL PRATIDINA / JAWAPOS RADAR SEMARANG)
HARUS TEPAT DAN PAS : Salah seorang warga Kampung Kranggan Dalam sedang membuat kulit lunpia. (NURUL PRATIDINA / JAWAPOS RADAR SEMARANG)

Sebagian warga Kampung Kranggan Dalam berprofesi sebagai pembuat kulit lunpia. Produk usaha mikro tersebut tak hanya didistribusikan pada produsen lunpia di Semarang, tapi hingga beberapa kota lain. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

ADONAN kulit lunpia, wajan lengkap dengan tiga kompor memenuhi teras rumah Sapto. Ya, pagi hingga siang, salah seorang warga Kranggan Dalam ini aktif memproduksi kulit lunpia. “Sudah 25 tahun saya menekuni usaha pembuatan kulit lunpia,” ujarnya saat ditemui oleh Jawa Pos Radar Semarang, baru-baru ini.

Pria berusia 42 tahun ini mengaku mengenal ketrampilan membuat kulit lunpia dari sang ibu. Mulai dari takaran bahan, pembuatan adonan hingga menjadi kulit lunpia. Selain Sapto, dua adiknya juga ikut menekuni usaha tersebut. “Ketrampilannya ya turun temurun. Saya dari ibu. Lihat caranya, belajar, lalu bikin sendiri untuk dijual,” ujarnya.

Selain Sapto, ada juga Yono. Pria berusia 38 tahun ini juga mengaku sudah sekitar 20 tahun menekuni usaha pembuatan kulit lunpia. Tiap hari, menghabiskan waktu sekitar 5 jam, ia bisa menghasilkan antara 1.200 – 1.500 lembar kulit lunpia. “Keseharian memang bikin kulit lunpia. Tapi tidak sehari penuh, jadi masih bisa disambi pekerjaan lain,” ujar bapak satu anak ini.

Lembaran kulit lunpia produksi mereka ini dapat bertahan antara 3-5 hari. Oleh karena itu, begitu jadi, segera dipasarkan ke para pelanggan dan pemesan yang umumnya produsen lunpia baik dalam kota maupun luar Semarang. “Disetorkan ke toko-toko yang jual lunpia. Per bungkus isi 100, dengan harga beragam, tergantung ukuran,” ujarnya.

Meski terlihat mudah, ternyata pembuatan adonan harus tepat. Kualitas dan takaran terigu maupun takaran bumbu yang tidak tepat, akan menjadikan adonan gagal. Begitu juga dengan proses pemasakannya. “Kalau terigunya jelek atau takarannya salah, nanti bolong-bolong jadinya. Tidak bisa rata. Sama juga kalau pas ditaruh ke wajan, harus pas dan cepat agar tidak gosong,” ujarnya.

Ada juga Jeffry yang mulai ikut menekuni usaha pembuatan lunpia sejak setahun lalu. Awalnya, usaha ini hanya dikerjakan oleh sang istri, namun karena terkena efisiensi tenaga kerja, Jeffry mulai ikut membantu usaha tersebut. “Ya lumayan sehari 1000-2000 lembar pesanan,” ujarnya.

Lurah Kranggan, Agus Witanto menambahkan, setidaknya 35 warga di perkampungan tersebut bermata pencaharian sebagai pembuat kulit lunpia. Hasil produksi mereka didistribusikan untuk memenuhi permintaan produsen lunpia di Semarang dan sekitarnya. Oleh karena itu, perkampungan yang tak jauh dari kawasan Pecinan ini sering disebut sebagai sentra pembuatan kulit lunpia. “Sebagian besar mempelajari ketrampilan secara turun temurun. Nah, kami dari pemerintah berupaya mendorong para perajin tersebut untuk menjaga higienitas dalam proses produksi,” ujarnya. (*/ida)