Ternyata, Dua Warga Batang Supect Difteri

509
RUANG ISOLASI : Kasi Pelayanan Medis RSUD Batang, dr Nurul Hidayati menunjukkan ruang isolasi khusus di RSUD Batang yang diperuntukkan pasien difteri, Selasa (12/12) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RUANG ISOLASI : Kasi Pelayanan Medis RSUD Batang, dr Nurul Hidayati menunjukkan ruang isolasi khusus di RSUD Batang yang diperuntukkan pasien difteri, Selasa (12/12) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BATANG–Ternyata, warga Batang yang dinyatakan suspect difteri ada dua orang. Keduanya merupakan warga Kecamatan Gringsing dan Banyuputih, satunya ABG laki-laki berumur 15 tahun dan anak laki-laki berumur 6 tahun. Namun kedua warga Batang tersebut memang tidak memeriksakan diri ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Batang. Namun pihak RSUD Batang turut melakukan pemantuan terhadap kedua warga tersebut.

“Kami mendapat laporan, ada warga kami yang didiagnosa suspect difteri. Namun karena perhitungan jarak kedua pasien dari Batang Timur, akhirnya langsung direkomendasikan ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Kariadi Semarang dan RS di wilayah Kendal yang jaraknya lebih dekat,” kata Kepala Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Batang, dr Junaidi melalui Kasi Pelayanan Medis dr Nurul Hidayati, Selasa (12/12) kemarin.

Perlu diketahui, pasien yang berobat ke RSUD Kendal akhirnya dirujuk ke RSUD Tugurejo Semarang, sebagaimana diberitakan Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (12/12) kemarin. Kendati begitu, atas kasus tersebut, kata dr Yati panggilan akrab dr Nurul Hidayati, pihaknya langsung bergerak cepat melakukan antisipasi. Selain langsung menggelar pelatihan khusus kepada perawat dan dokter setempat dalam penanganan penyakit difteri, juga menyediakan ruang isolasi khusus, jika nantinya ada pasein difteri.

“Kami sudah menyiapkan sumber daya manusia (SDM) dan fasilitas, walaupun saat ini baru ada satu ruang isolasi. Penyakit ini, penanganannya beda, harus diisolasi. Karena penyebarannya lewat udara,” jelasnya.

Ruang isolasi yang dimaksud berada di lantai 2 di Ruang Kenanga. Ruangan tersebut dilengkapi dengan penyaring udara khusus. Lokasinya juga jauh dan terbatas dari jangkauan pengunjung, sehingga aman dari hiruk pikuk orang.

Tak hanya itu, pihaknya juga menyiapkan Alat Pelindung Diri (APD) dan berbagai peralatan khusus, termasuk kepada pendamping, perawat dan dokter yang menangani. Selain itu, masih ada aturan ketat dalam pengawasan maupun tindakan kepada pasien.

“Nantinya pasien dan semua orang yang menangani, harus diperlakukan khusus. Hal tersebut berlaku juga, terhadap pasien suspect hingga sembuh dari bakteri difteri,” jelasnya.

Walaupun hingga saat ini belum ada laporan adanya warga Batang lainnya yang terkena difteri, pihaknya terus waspada dan mempersiapakan diri dengan baik. Baik personel maupaun fasilitas di rumah sakit.

Ditambahkan dokter spesialis anak RSUD Batang dr Tan Evisusanti, bahwa penyebaran kuman Difteri memang sangat cepat melalui udara. Sehingga siapapun harus hati-hati, termasuk harus adanya ruang isolasi khusus dalam perawatannya.

“Pencegahan penyakit ini dengan imunisasi saat balita. Penyakit ini sering menyerang bayi dan remaja. Namun ada beberapa kasus orang dewasa yang kena. Timbulnya penyakit ini, karena kantong-kantong imunisasi kurang, sehingga menular dan menyebar,” ucapnya.

Penyakit ini memang berbahaya, karena bisa menyebabkan kematian. Untuk itu, harus dilakukan penanganan dengan baik dan dini, agar pasien bisa sembuh dan tidak menularkan ke orang lain. Termasuk, jikapun hanya pasien suspect, akan diterapi dan diperlakukan seperti penderita difteri agar tidak menyebar atau malah menjadi penyakit. “Kalau dibiarkan, ke depan bisa menjadi bibit dan menyebar kepada orang lain,” tandasnya.

Humas RSUP dr Kariadi Semarang, Vivi Vira saat dimintai konformasi, mengakui sejauh ini baru menerima satu pasien yang diduga mengidap penyakit difteri. Pasien tersebut dari Batang. “Jumlah pasien baru satu, rujukan dari Batang,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (12/12) kemarin.

Diakuinya, karena penyakit difteri merupakan penyakit menular, pihaknya telah berupaya melakukan isolasi guna pencegahan penyebaran. “Ini penyakit menular. Pasien sudah diisolasi yang full,” tegasnya.

Pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat untuk terus menjaga kesehatan supaya tidak terserang penyakit menular tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan oleh masyarakat adalah menjaga kesehatan. “Harus berperilaku hidup sehat dan menjaga kebersihan. Terlebih menjaga etika batuk,” imbuhnya. (han/mha/ida)