Satu Suspect Difteri, Jateng Waspada

Dirawat di Ruang Isolasi RSUD Tugurejo

396

Pihaknya saat ini telah siaga dengan bertukar informasi dengan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI). “Tentunya ada warning dan persiapan di Jawa Tengah. Karena penyebaran bakteri ini sangat cepat, upaya penanganan telah disiapkan. Mulai dari penyediaan ruang isolasi, obat-obat, dan lainnya,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono menambahkan bahwa di Kota Semarang pernah ada satu pasien terserang difteri pada Januari 2017 lalu. “Pasien itu dari Semarang Timur dan sudah tertangani dengan bagus. Sampai sekarang kami terus pantau. Alhamdulillah, Kota Semarang tidak termasuk daerah Kejadian Luar Biasa (KLB),” katanya.

Dijelaskannya, penyebaran bakteri ini melalui percikan ludah, saat terjadi perbincangan. Ia mengakui sangat berbahaya. “Angka kematiannya 10 persen. Tapi jarang atau kasusnya sedikit. Penanganan sejauh ini bagus. Yang sakit sudah berobat. Sedangkan yang belum sakit dilakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE). Saya pastikan di Kota Semarang saat ini tidak ada yang terkena difteri,” katanya.

Sementara itu, menanggapi adanya pasien suspect difteri diRS Tugurejo, Kepala (Dinkes) Pemprov Jateng, Yulianto Prabowo justru menjelaskan bahwa sebenarnya pernah ada dua pasien yang terjangkit difteri karena tidak mendapatkan vaksin imunisasi ketika balita di sepanjang 2017 di Jateng ini. Satu warga Kota Semarang berusia 21 tahun, dan satu lagi warga Karanganyar, 12 tahun.

“Yang dari Karanganyar, menolak imunisasi. Sementara yang dari Kota Semarang, status imunisasi DPTnya tidak lengkap. Tapi semua sudah ditangani. Sudah sembuh,” ujarnya, Senin (11/12) kemarin.

Dari kasus itu, Yulianto mengimbau kepada seluruh orang tua di Jateng untuk tidak menolak program imunisasi. Terutama imunisasi DPT yang harus dilakukan secara rutin saat anak masih berusia balita. Sebab, ketika sudah melewati balita, vaksin imunisasi sudah tidak efektif.