Satu Suspect Difteri, Jateng Waspada

Dirawat di Ruang Isolasi RSUD Tugurejo

455

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jateng, lanjut dia, juga telah melakukan penyelidikan kepada pasien tersebut. Apalagi difteri merupakan kasus penyakit yang mematikan dan berpotensi menjadi wabah. Selain pasien, pihak rumah sakit juga memberikan proteksi kepada petugas yang merawat pasien terduga difteri tersebut. “Nanti akan dirawat sekitar 2 minggu ke depan, namun saat ini keadaan pasien sudah cukup bagus dan terus dalam monitoring dokter,” katanya.

Pihaknya mengimbau agar masyarakat lebih waspada terhadap gejala difteri. Pasalnya serangan virus tersebut mirip dengan radang tenggorokan. “Jadi tidak boleh disepelekan, harus langsung dilakukan penanganan medis,” tutupnya.

Sedangkan Direktur RSUD KRMT Wongsonegoro Kota Semarang, Susi Herawati, mengungkapkan bahwa sejauh ini RSUD KRMT Wongsonegoro Kota Semarang belum melayani pasien difteri. “Tapi kami siap, apabila ada masyarakat yang terindikasi difteri,” ujarnya.

Kendati begitu, Susi mengimbau agar masyarakat tidak panik dan bisa mendeteksi secara dini mengenai ciri-ciri terserang difteri, yakni suhu badan panas, batuk dan nyeri telan. Meski begitu, difteri memang mudah menular melalui batuk atau bersin. Ini karena bakteri yang bersarang di tenggorokan dan hidung itu, membentuk selaput putih dan tebal hingga bisa menutupi saluran pernapasan. “Kebanyakan menyerang anak-anak yang daya tahan tubuhnya rendah. Namun bakteri ini bisa dicegah dengan imunisasi,” katanya.

Jika ada anak yang belum diimunisasi, kata dia, biasanya mudah terkena difteri. “Kami memang sedang siaga terkait penyakit ini. Tapi tidak usah khawatir, namun kalau ada anak demam, batuk, nyeri telan, tolong segera diperiksakan ke dokter,” katanya.

Penanganannya nanti akan dilihat dan diperiksa oleh dokter. Hasil pemeriksaan apabila ditemukan selaput berwarna abu-abu di sekitar tenggorokan atau amandel, apabila disentuh berdarah, maka dokter mencurigai difteri. “Tentunya kami akan isolasikan supaya bakteri tersebut tidak menyebar. Selanjutnya akan diberikan terapi yang tepat,” terang Susi.