Pesanan dari Ceko Sampai 100.000 Kaleng

Tempe Kaleng Tembus Pasar Internasional

1656
GO INTERNATIONAL: Pemilik Umiyakko Java Food, Kusumo Winata Jati dan Dirjaya menunjukkan produk tempe kaleng yang berhasil menembus pasaran mancanegara. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)
GO INTERNATIONAL: Pemilik Umiyakko Java Food, Kusumo Winata Jati dan Dirjaya menunjukkan produk tempe kaleng yang berhasil menembus pasaran mancanegara. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)

Tempe sering dinilai sebagai makanan kelas bawah. Tapi di tangan seorang pengusaha asal Kabupaten Magelang, tempe naik kelas, bahkan dicari masyarakat internasional. Seperti apa?

AGUS HADIANTO, Mungkid

Berawal dari kesukaan dan kerinduan terhadap olahan tempe buatan almarhumah ibunya, Dirjaya, 56, seorang pengusaha dan periset bidang teknologi pangan asal Desa Sucen, Salam Kabupaten Magelang berinovasi membuat tempe yang beda dengan biasanya. Lewat riset yang mendalam sejak 2007 silam, ia mampu menjual tempe hingga ke pasar internasional.

Dirjaya mendirikan Umiyakko Java Food yang lini bisnis utamanya sebagai produsen tempe siap saji dalam kemasan kaleng. Ia melibatkan sang istri, Astuti, 56, sebagai tenaga bidang riset atau penelitian serta putranya, Kusuma Winata Jati, 24, di bidang pemasaran. “Berjalannya usaha produksi tempe ini atas dukungan dari keluarga, terutama anak saya. Anak saya sangat menyukai tempe dan mempunyai pemikiran kenapa tempe tidak dibawa ke luar negeri,” ungkap Dirjaya saat ditemui di rumahnya, Senin (11/12).

Riset yang dilakukan tidak tanggung-tanggung, ia harus merogoh kocek dalam-dalam. Dirjaya memang sejak awal sudah membulatkan tekad ingin memproduksi tempe dengan kualitas tinggi dan mampu bertahan lama jika bisa dipasarkan ke luar negeri. “Dalam perjalanannya, saya membeli alat-alat untuk produksi dengan masing-masing alat bernilai Rp 3 miliar. Dalam proses prioduksi membutuhkan 5 unit alat yang meliputi proses pemilihan kedelai, pemasakan, pensterilan hingga pengepakan. Memang semuanya memakai mesin sebagai standar produk luar negeri,” bebernya.

Meski kesemuanya menggunakan mesin modern untuk menyajikan produk tempe yang higienis dan berstandar internasional, Dirjaya tetap memakai tenaga manusia. Sebanyak 7 karyawan dikerahkan dalam pengoperasiannya. “Namun yang terpenting, bahan baku pembuatan tempe kami menggunakan kedelai lokal. Ya kedelai lokal. Karena memang pemikiran kami, meski tempe dipasarkan di luar negeri tetapi kami memakai kedelai lokal kualitas baik. Tujuan kami yaitu mengangkat para petani kedelai lokal,” imbuhnya.

Pemilihan bahan baku dari kedelai lokal karena memiliki kandungan air maupun kandungan gizi yang terlalu tinggi dari kedelai impor. Ia menjalin kerjasama dengan petani kedelai di Pacitan, Grobogan dan Wonosari untuk mencukupi kebutuhan bahan baku.

Selain pemilihan bahan baku, proses produksi juga dipengaruhi kualitas air yang digunakan. Kualitas air yang baik, menurutnya, hingga saat ini ada di daerah Pakem, Kaliurang, Jogjakarta. “Karena air dari daerah Pakem memiliki prasyarat bagus, baik dari segi kandungan magnesium, kalium dan bebas polutan. Jadi kami hingga saat ini masih menggunakan air dari Pakem melalui truk tangki,” jelasnya.