SEMARANG – Ekspor garmen tahun ini menurun cukup signifikan. Kondisi perekonomian negara tujuan ekspor yang belum membaik dinilai sebagai salah satu penyebab penurunan ekspor.

Salah seorang produsen produk garmen, Deddy Mulyadi mengatakan, tahun ini ekspor garmen turun hingga 40 persen bila dibanding tahun sebelumnya. Penurunan terbesar berasal dari pasar Amerika.

“Pasar Amerika cukup lesu dan cenderung menurun. Terlebih apabila tahun depan suku bunga naik, maka daya beli mereka juga pasti akan menurun, karena bunga produk-produk kredit jangka panjang seperti rumah dan mobil juga pasti akan naik. Mereka akan pilih bayar kredit daripada beli baju,” ujarnya, disela Seminar Outlook Perekonomian 2018, baru-baru ini.

Kelesuan ini menurutnya juga terjadi hampir di semua negara tujuan ekspor. Oleh karena itu, pihaknya mulai melakukan diversifikasi produk. Diantaranya produk berupa seragam dari berbagai profesi hingga pakaian dalam.

“Kalau yang pakaian standar sudah menurun. Karena itu sekarang kami garap pakaian-pakaian yang spesifik, seperti seragam militer, seragam pertanian, pemadam kebakaran, seragam suster. Segmen ini memang terbilang rumit dan tidak banyak yang mau kerjakan, namun permintaan masih cukup tinggi, karena itu kami ambil,” ujarnya.

General Manager PT Sandang Asia Maju Abadi ini juga mengaku masih terus menyasar pasar luar, karena untuk di dalam sendiri dinilai masih belum sebesar pasar luar. “Indonesia hanya dua musim, jadi untuk pakaian tidak harus terlalu sering berganti sesuai musim. Beda dengan negara yang terdiri dari empat musim, dimana tiap musim biasanya pakaian juga disesuaikan,” ujarnya. (dna/ric)