IKUT BERPERAN : Penulis dan sejarawan Ravando Lie memberikan penjelasan tentang sejarah peran Tionghoa dalam bidang kesehatan. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
IKUT BERPERAN : Penulis dan sejarawan Ravando Lie memberikan penjelasan tentang sejarah peran Tionghoa dalam bidang kesehatan. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Sebagai negara yang memiliki keragaman etnis dan budaya, warga negara Indonesia dikenal memiliki rasa nasionalisme yang kuat terhadap bangsanya. Bahkan dalam membangun bangsa ini, berbagai etnis bangsa menjadi satu untuk mengusir penjajah hingga Indonesia merdeka. Sayangnya peran dari masyarakat Tionghoa tidak pernah dianggap dan mendapatkan penghargaan yang sepantasnya.

Dokter Bedah SMC RS Telogorejo Semarang, sekaligus panitia acara Diskusi Publik ‘Anak Bangsa membangun Indonesia’, Dr Teguh S Rahardjo mengatakan stigma masyarakat yang menganggap etnis Tionghoa hanya peduli terhadap urusan ekonomi dan tidak memiliki rasa nasionalisme tidaklah benar. Pasalnya banyak anak bangsa dari etnis Tionghoa yang turut serta membangun bangsa Indonesia. “Kontribusi dari Tionghoa dalam membangun bangsa cukup besar di berbagai bidang, terutama kesehatan,” katanya di sela diskusi publik, di Atrium SIM Squeare SMC RS Telogorejo, belum lama ini.

Dengan adanya diskusi publik tersebut, diharapkan bisa mempelajari dan mengapresiasi kontribusi masyarakat Tionghoa dalam berbagai bidang, salah satunya bidang kesehatan. Selain itu memperkaya dan membuka pengetahuan masyarakat Indonesia, tentang peran serta Tionghoa dalam membangun bangsa. “Diharapkan ada utuh tentang peran berbagai etnis dalam membangun bangsa. Apalagi Indonesia adalah negara yang punya keragaman etnis dan budaya, salah satunya Tionghoa,” tuturnya.

Dalam diskusi publik itu dihadirkan tiga nasarumber yakni dr Lie Dharmawan sebagai pendidiri rumah sakit apung (floating hospital) pertama di Indonesia, dr Michael Laeksodimulyo sebagai dokter spesialis gelandangan yang mengabdikan diri melayani pasien miskin, dan Ravando Lie sebagai sejarawan dan penulis buku.

“Membangun bangsa saat ini, terutama dokter adalah melihat secara kemanusiaan dan mengabdi terhadap bangsa. Salah satunya adalah dengan orang miskin ataupun tidak mampu, rasa ini pula yang harus dimiliki oleh setiap anak bangsa,” kata dr Michael Laeksodimulyo.

Untuk mengentaskan kemiskinan, lanjut dia, perlu dilakukan pemberdayaan salah satunya pendidikan formal dan informal, dengan peluang yang sama dengan orang lain. Sayangnya banyak pengusaha yang melihat calon tenaga kerja dari background nya saja. “Kalau hanya melihat back ground mantan preman, mantan PSK, tentu tidak ada kesempatan buat mereka dan tetap terjerumus dalam kemiskinan. Nah itu pula harus dihilangkan dengan memberi kesempatan yang sama,” bebernya. (den/ric)