Penghasil Batako dan Paving

Desa Pagersari Kecamatan Bergas

801
LEBIH KUAT : Effendi, pengrajin batako di Desa Pagersari sedang mencetak batako. Dalam sehari dengan 5 karyawan lainnya, dirinya bisa mencetak hingga 1000 batako
LEBIH KUAT : Effendi, pengrajin batako di Desa Pagersari sedang mencetak batako. Dalam sehari dengan 5 karyawan lainnya, dirinya bisa mencetak hingga 1000 batako

BERGAS – Desa Pagersari memang terkenal dengan produk batako dan paving. Ada sekitar 20 kepala keluarga (KK) di Desa Pagersari memiliki usaha pembuatan batako dan paving. Batako dari desa ini memang sudah cukup terkenal kualitasnya.

Kepala Desa Pagersari, Kecamatan Bergas Rusdiyono mengatakan, banyak konsumen dari berbagai daerah mencari hasil produksi warga Desa Pagersari diantaranya ada dari Kabupaten Semarang, Kota Semarang, Salatiga dan beberapa daerah lainnya.

Rusdiyono (IST)

”Mungkin karena di sini kualitasnya bagus, dengan harga yang lebih murah daripada yang lainnya sehingga banyak yang datang ke sini untuk medapatkan batako atau paving,” ujarnya.

Usaha rumahan ini pun membawa berkah tersediri bagi warga Desa Pagersari. Pasalnya, banyak pekerja yang terserap untuk produksi batako yang sehari bisa mencapai ribuan ini, tergantung ramaianya pesanan.

”Sayangnya itu kalau yang masih muda, yang sudah ikut membuat batako jadi nggak mau sekolah. Karena sudah bisa merasakan uang,” keluhnya.

Rusdiyono mengatakan, sempat ada wacana untuk membentuk koperasi untuk mewadahi para pengrajin batako di Desa Pagersari ini. Tujuannya, dengan adanya koperasi harga batako di desa ini bisa lebih tertata dengan baik, dalam artian tidak ada persaingan harga antar perajin batako di desa Pagersari.

”Tapi sulit. Soalnya mereka jalan dengan modal mereka sendiri. Sebetulnya pernah dibina dari Undip juga, tapi ya mandeg. Kalau ada koperasi kan antar perajin bisa kompak,” kata dia.

Bagaimanapun, dirinya berharap agar adanya pengrajin batako, dengan sentuhan pemerintah desa, dapat berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Berkaitan dengan upaya mensejahtrakan masyarkaat, desa ini juga memiliki wacana untuk membentuk BUMDes yang dieprkirakan akan dijalankan di tahun 2019. BUMDes ini nantinya akan memanfaatkan potensi berupa sumber air melimpah di desa ini, yaitu sumber Tok Khajar. Sumber air ini bahkan dapat digunakan untuk mengairi sawah di desa Pagersari dengan luasan sekitar 130 hektar.

”Sementara ini memang masih untuk air bersih dan pengairan pertanian. Nanti ke depan akan kita bangun kolam renang sebagai bagian dari BUMDes,” ujarnya. Dirinya menginginkan, ke depan Desa Pagersari bisa lebih makmur dengan kesuksesan warga di segala bidang. (sga/zal)