Jangan Ada Diskriminasi pada Difabel

Peringatan Hari Disabilitas Internasional di Wonosobo

436
HAK YANG SAMA: Para difabel dan masyarakat berjalan kaki mengelilingi Alun-alun Wonosobo untuk mengkampanyekan kepedulian terhadap penyandang disabilitas. (IST)
HAK YANG SAMA: Para difabel dan masyarakat berjalan kaki mengelilingi Alun-alun Wonosobo untuk mengkampanyekan kepedulian terhadap penyandang disabilitas. (IST)

Hari Disabilitas Internasional (HDI) diperingati setiap 3 Desember sebagai bentuk kampanye penyadaran masyarakat terhadap permasalahan yang berkaitan dengan penyandang cacat. Selain itu juga sebagai wujud kepedulian dan dukungan kepada penyandang cacat agar hak, martabat dan kesejahteraannya meningkat.

MINGGU (10/12), warga Wonosobo bersama penyandang disabilitas memperingati HDI dengan cara jalan kaki mengelilingi Alun-alun. Para difabel yang menggunakan kruk dan kursi roda juga ikut long march.

Wakil Bupati Wonosobo Agus Subagiyo yang ikut berjalan kaki berpesan agar para penyandang disabilitas di Wonosobo harus tetap bersemangat, beraktivitas dan berkreativitas tanpa melihat keterbatasan yang ada. “Kepada para penyandang disabilitas khususnya anak-anak usia sekolah, harus tetap menuntut ilmu untuk masa depan. Saya ingin semua anak-anak penyandang disabilitas harus tetap semangat untuk sekolah, untuk menuntut ilmu menuju masa depan yang cerah,” katanya.

Tema HDI 2017 di Indonesia yaitu ‘Menuju Masyarakat Inklusif, Tangguh dan Berkelanjutan’ sesuai UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Pemilihan tema ini berdasarkan masih banyaknya persoalan-persoalan yang dihadapi penyandang cacat, seperti perlakuan diskriminatif dan rendahnya tingkat kesejahteraan para penyandang cacat. Mengacu pada UU Nomor 8 Tahun 2016, kedudukan hak dan martabat penyandang cacat sama dengan warga negara Indonesia lainnya dalam setiap aspek kehidupan.

Peringatan HDI di Wonosobo sudah digelar sejak Sabtu (8/12). Antara lain dengan menggelar berbagai perlombaan yang melibatkan para penyandang disabilitas. Yaitu lomba menyetrika bagi penyandang tuna netra, memasukkan benang yang diikuti penyandang tuna rungu, pukul air oleh penyandang tuna daksa dan IPJTW, memakai dan melepas kancing baju diikuti tuna grahita, serta estafet bola yang diikuti tuna rungu.

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Wonosobo Muawal Sholeh menerangkan, sampai dengan November ini, penyandang disabilitas di Kabupaten Wonosobo berjumlah 4.240 orang. Rinciannya penyandang disabilitas fisik ada 1.711 orang, disabilitas intelektual (722), disabilitas sensorik (503), disabilitas mental (927) serta multidisabilitas (377). Pemkab Wonosobo juga telah memberikan bantuan kepada sejumlah penyandang disabilitas, di antaranya berupa kaki palsu, tangan palsu, alat bantu dengar, kruk, tripot, walker dan lainnya. (ali/ton)