Sepeda Hias Menjamur, Harusnya Pemkot Menata

Taman Kota Simpang Lima, Jadi Lahan Bisnis

259
BANYAK PEMINAT : Usaha penyewaan sepeda hias yang semakin menjamur di Simpang Lima Kota Semarang, memanjakan para penikmat wisata malam Kota Semarang. Meski turut mengganggu aru lalulintas sekitar Simpang Lima Semarang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BANYAK PEMINAT : Usaha penyewaan sepeda hias yang semakin menjamur di Simpang Lima Kota Semarang, memanjakan para penikmat wisata malam Kota Semarang. Meski turut mengganggu aru lalulintas sekitar Simpang Lima Semarang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

TAMAN Kota, Simpang Lima Semarang disalahgunakan untuk bisnis jasa persewaan wahana permainan seperti motor trail mini, mobil mini, sepeda-becak hias, dan lain-lain. Akibatnya, fasilitas publik berupa pedestrian yang diperuntukkan bagi pejalan kaki, malah direbut oleh sekelompok orang untuk kepentingan bisnis.

Praktik persewaan wahana permainan tersebut dipastikan tidak berizin. Namun demikian, wahana permainan sepeda hias dan lain-lain yang kian menjamur tersebut justru dibiarkan, belum juga dilakukan penataan. Akibatnya, Taman Kota Simpang Lima yang seharusnya berfungsi sebagai tempat santai bagi masyarakat, menjadi semrawut.

“Taman kota tentunya harus digunakan sebagaimana fungsinya. Berkaitan dengan wahan permainan, seperti sepeda hias, odong-odong, dan lain-lain, tentunya Pemkot Semarang harus bisa melakukan penataan dan memberikan ruang,” kata Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Wiwin Subiyono, dimintai komentar oleh Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (9/12) kemarin.

Dikatakannya, penataan tidak serta merta menggusur atau menyingkirkan mereka. Sebab, mereka juga mencari makan. Maka dari itu, semua pihak terkait, baik Satpol PP, Dinas Pertamanan, Dishub, maupun Dinas Pariwisata, mestinya bekerjasama melakukan penataan. “Kalau memang aturannya tidak diperbolehkan, ya harus ditertibkan untuk kemudian dicarikan tempat,” tegasnya.

Menurutnya, Pemkot Semarang perlu melakukan terobosan-terobosan untuk mencarikan tempat wahana permainan sepeda hias tersebut. Apakah di Taman KB, Jalan Pahlawan, atau di tempat lain. “Toh, sebetulnya wahana sepeda hias di Simpang Lima itu tidak setiap hari. Minimal bisa menjadi salah satu pendukung pariwisata. Tetapi harus ada pembinaan dan penataan,” terangnya.

Munculnya keramaian berupa bisnis jasa sepeda hias di taman kota jika dibiarkan tanpa ada upaya penertiban, tentu akan mengakibatkan masalah baru. “Sebab kalau dibiarkan akan membuat kesemrawutan. Kalau setiap orang diperbolehkan membuka usaha di Simpang Lima, ya penuh semua. Pengunjung nanti malah tidak nyaman,” ujarnya.