BANYAK PEMINAT : Usaha penyewaan sepeda hias yang semakin menjamur di Simpang Lima Kota Semarang, memanjakan para penikmat wisata malam Kota Semarang. Meski turut mengganggu aru lalulintas sekitar Simpang Lima Semarang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BANYAK PEMINAT : Usaha penyewaan sepeda hias yang semakin menjamur di Simpang Lima Kota Semarang, memanjakan para penikmat wisata malam Kota Semarang. Meski turut mengganggu aru lalulintas sekitar Simpang Lima Semarang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RENCANA pemindahan sepeda hias atau odong-odong yang beroperasi di kawasan Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang ke Kawasan Kota Lama sudah santer terdengar oleh sejumlah pemilik usaha sepeda hias. Hampir seluruhnya, kompak menolak dan ingin bertahan di Simpang Lima.

Salah seorang pengusaha, Okta Dwi Hartanto yang sudah 4 tahun melakoni usahanya tersebut mengaku tidak setuju jika harus dipindahkan ke Kota Lama. Pasalnya, keamanan di kawasan tersebut belum terjamin. Selain itu, areanya sulit untuk memantau pergerakan sepeda hias yang sedang disewa.

“Daerah sekitar Koat Lama terkenal rawan, banyak premannya. Kalau di Simpang Lima mantaunya enak. Muter saja, masih bisa kelihatan kalau sepedanya di sebelah sana,” ujar warga Kaligawe tersebut kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurutnya, usaha odong-odong tersebut lebih cocok dilakukan di Simpang lima yang merupakan pusat keramaian Kota Semarang. Dalam sehari, dirinya bisa meraup keuntungan paling tidak Rp 100 ribu. Dan dirinya meragukan, jumlah tersebut dapat diterimanya jika pangkalannya dipindah ke Kota Lama. “Cuma kalau usaha outdoor kayak gini, musuhnya hujan. Seperti kemarin dua hari berturut hujannya deras, ya kami ini zonk, gak dapat sama sekali,” ujarnya.

Hal serupa dikatakan oleh Darsiyati yang mengaku dirinya mendengar isu tersebut.  Namun dirinya tegas menolak pemindahan tersebut. Ia menilai, kawasan Kota Lama tidak cocok untuk usaha odong-odong, karena terlalu luas dan banyak gedung. Hal itu rawan alat usahanya hilang tanpa diketahui. “Nggak cocok ya, disitu nggak aman. Kami kan nggak tahu kalau pas disewa, tahu-tahu sampai tempat agak gelap itu (sepeda hias) hilang,” bebernya.

Lagipula, lanjut dia, sejak ia kecil telah mengenal Simpang Lima sebagai tujuan wisata jika perantau datang ke Kota Semarang. Hal itu, sesuai pengalamannya yang merupakan perantau asal Pati.