Pikiran dan Hati Harus Seimbang

461
MAULID NABI : Budayawan asal Jogjakarta, Cak Nun (Emha Ainun Najib) bersama istrinya Novia Kolopaking mengisi pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW di depan Masjid Agung Demak, Kamis malam (7/12) kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MAULID NABI : Budayawan asal Jogjakarta, Cak Nun (Emha Ainun Najib) bersama istrinya Novia Kolopaking mengisi pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW di depan Masjid Agung Demak, Kamis malam (7/12) kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK-Pengajian akbar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Takmir Masjid Agung Demak, Kamis malam (7/12) kemarin, berlangsung khidmat. Ribuan kaum mislimin menghadiri acara yang dihelat di depan Masjid karya Walisongo tersebut.

Gema maulid yang mengusung tema persembahan cinta untuk Baginda Rasul bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng ini mengulas banyak hal terkait keteladanan Nabi Muhammad SAW. Budayawan dari Jogjakarta Emha Ainun Najib atau akrab disapa Cak Nun bersama istrinya Novia Kolopaking menggemakan salawat untuk Nabi Muhammad. Dengan iringan musik Kiai Kanjeng mampu mengaduk-aduk perasaan jamaah yang duduk lesehan di depan panggung utama.

Malam pun tak terasa sudah larut. Cak Nun dalam tausiyahnya mengatakan, dalam hidup di dunia, pelajaran penting yang harus dipegang erat adalah keseimbangan antara pikiran dan hati. Satunya perkataan dengan perbuatan. “Orang hidup di dunia ini hanya mampir ngombe. Kaya atau miskin itu tidak menjadi persoalan. Yang menjadi masalah adalah apakah kita sudah dekat dengan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah atau tidak?” ungkap Cak Nun.

Menurutnya, Nabi Muhammad memiliki banyak keistimewaan. Selain diciptakan sebagai makhluk pertama dalam bentuk nur Muhammad (sebelum ada Nabi Adam AS), Nabi Muhammad merupakan khotamul Anbiya (Nabi terakhir). Karena itu, jika ingin dekat dengan Nabi Muhammad, maka dapat memperbanyak salawat.

“Untuk memperoleh syafaat Nabi Muhammad tidak perlu menunggu di akherat nanti, tapi di dunia ini juga dapat meraih syafaat Nabi. Maka cintailah nabi dan ikuti jejak nabi. Tentu syafaat itu akan bersemai dalam kehidupan berupa hidup damai dengan sesama,” ujarnya.

Cak Nun juga menggambarkan bahwa, dalam kehidupan sehari-hari, kepatuhan pada Allah SWT dan rasul-Nya merupakan kepatuhan mutlak bagi seorang hamba. Namun, ini berbeda dengan kepatuhan terhadap pemimpin (Ulil Amri). “Kalau kepada pemimpin lihat dulu kepemimpinanya seperti apa. Jangan seperti Yuyu Kangkang,” katanya.

Cak Nun juga memberikan nasehat agar hidup harus dijalani secara seimbang. “Antara pikiran dan hati harus seimbang,” katanya. Ini seperti lelakon yang digambarkan dalam kisah pembuatan kayu tatal Masjid Agung Demak oleh Sunan Kalijaga yang diringi cerita hewan orong-orong. Saat kayu tatal dibuat untuk menyambung soko atau tiang Masjid Agung Demak, tiba-tiba ada orong orong yang lewat dan antara kepala serta badannya terpotong sehingga lepas. Namun, dengan sepenuh hati Sunan Kalijaga mencoba menyambungkan kembali kepala dan badan orong-orong tersebut. Disitulah, pentingnya memahami antara pikiran dan hati harus nyambung sehingga hidup betul-betul seimbang.

Ketua Takmir Masjid Agung Demak, Ni’am Anshori mengatakan, syiar gema Maulid Nabi Muhammad tersebut merupakan kegiatan tahunan untuk menyemarakkan hari lahir Nabi Muhammad yang jatuh setiap 12 Maulud. “Kami berharap, dengan peringatan Maulid Nabi ini, dapat syafaat beliau kelak diakherat,” katanya. (hib/ida)