Mobil Dijual, Keanggotaan Masih Berlaku

Lebih Dekat Dengan Estilo-Genio Community Indonesia (EGCI) Regional Semarang

481
KOPI DARAT: Sejumlah anggota Estilo-Genio Community Indonesia (EGCI)Regional Semarang berfoto bersama saat kopi darat Jalan Pemuda. (DEOKUMEN PRIBADI)
KOPI DARAT: Sejumlah anggota Estilo-Genio Community Indonesia (EGCI)Regional Semarang berfoto bersama saat kopi darat Jalan Pemuda. (DEOKUMEN PRIBADI)

Pecinta mobil Honda Civic Genio keluaran 1992-1995 tergabung dalam wadah Estilo-Genio Community Indonesia (EGCI). Mobil jenis ini selain langka, juga dikenal ribet dalam perawatannya.

ADENNYAR WYCAKSONO

TERBENTUK sejak 2013 lalu, tepatnya pada 10 September. Estilo-Genio Community Indonesia (EGCI) Regional Semarang merupakan salah satu komunitas mobil di Kota Atlas. Tercatat ada sekitar 30 anggota. “Dulu sih penggagasnya ada tiga orang, yakni Mas Aris, Mas Hendra, dan Mas Ardi yang sering ketemu karena punya Genio. Akhirnya, ketiganya sepakat mendirikan klub ini dengan menginduk ke EGCI pusat pada 2013 lalu,” kata M Wildan Sofi Ega Musthofa, Ketua EGCI Regional Semarang.

Pria yang akrab disapa Wildan ini mengatakan lambat laun, pecinta mobil tersebut semakin bertambah dan menjadi besar. Menurut dia, walaupun bisa dibilang mobil tua, bentuknya yang modern dan trendi serta tidak ketinggalan zaman, membuat mobil tersebut masih diminati hingga sekarang.

“Kalau saya sendiri suka modelnya. Sedan yang trendi dan bentuknya modern di zaman dulu sampai sekarang. Mungkin sama juga bagi pecinta mobil ini pada umumnya,” jelasnya.

Meski dari segi bentuk tidak ketinggalan zaman, lanjut dia, masalah mesin memang tidak bisa dibohongi. Pecinta Genio selalu terbentur dengan kondisi mesin yang lemah alias mogok. Namun kekurangan tersebut malah membuat pecinta Genio terpacu untuk mendapatkan settingan mobil yang pas untuk kegiatan sehari-hari.

“Kalau kelemahannya adalah cepat panas dan sering mogok. Nah dari situlah pecinta Genio seakan berlomba mendapatkan settingan yang bagus agar mobil tetap kenceng dan tidak mogok d ijalan. Tantangan tersendirilah, bahkan bisa dibilang serunya di situ,” ujarnya sambil tertawa.

Terbentuknya komunitas tersebut, menurut Wildan, bukan untuk sekadar gaya-gayaan. Klub ini memiliki tradisi unik, yakni melakukan kopi darat keliling (kopling) di rumah-rumah member. Tak ketinggilan, para member harus mengajak keluarga agar lebih terjalin rasa persaudaraan yang kian erat. Regional Semarang sendiri, membawahi beberapa kota lain, seperti Kendal, Purwodadi, dan Ambarawa.