Mengadopsi Cara Mendidik Siswa dari Pelatih Sepakbola

313
Oleh: Pitoyo Meiyono
Oleh: Pitoyo Meiyono

HOW to train your students. Kalimat tersebut akan membawa ingatan kita kepada film How to Train Your Dragon (2010) dan How to Train Your Dragon 2 (2014) produksi DreamWorks Animation. Film tersebut bercerita tentang seorang viking kecil bernama Hiccup. Cerita ini berlatar belakang permusuhan bangsa viking dengan bangsa naga. Pada film tersebut, diceritakan kalau bangsa naga menjadi bangsa perusak dan pencuri domba bangsa viking.

Hiccup , suatu hari, menemukan secara tidak sengaja menemukan seekor naga yang cukup langka bernama night fury. Hiccup yang awalnya tidak tertarik pada bangsa naga jadi mempunyai pemikiran lain. Dia berpikir kalau dengan cara yang tepat, bangsa naga akan bisa menjadi sahabat bagi bangsa manusia. Dengan perhatian yang lebih kepada naga langka tersebut serta pelatihan yang diberikan oleh Hiccup membuat naga langka ini menjadi teman yang baik bagi Hiccup.

Demikian juga kita, jika kita, sebagai pendidik, bisa menemukan cara yang tepat dalam menangani para peserta didik, maka kita bisa memperoleh hasil positif di luar perkiraan kita. Ada baiknya kita belajar dari para pelatih sepakbola ternama berikut ini dalam menangani peserta didik kita.

Nama – nama seperti Pep Guardiola, Jose Mourinho, Zinedine Zidane, atau bahkan Arsene Wenger adalah nama – nama pelatih kelas atas yang punya ciri khas tersendiri. Tidak ada salahnya kita belajar dari para pelatih tersebut dalam mendidik para peserta didik.

Pep Guardiola. Siapa tidak kenal Lionel Messi? Pemain terbaik dunia bersama Christiano Ronaldo pada saat ini. Sebelum menjadi seperti yang kita ketahui seperti ini, Messi sudah terkenal dengan bakat luar biasanya. Tapi, Guardiola-lah yang berhasil memunculkan potensi maksimal dari Messi. Pelatih yang awalnya dipandang sebelah mata ini, berhasil menjadi pelatih terbaik Barcelona sampai saat ini. 14 gelar dalam 3 tahun!

Kunci keberhasilan Guardiola ada pada dua hal. Pertama, berani mengubah posisi pemain mesti sudah dianggap pada posisi yang tepat. Kedua, hanya boleh ada satu bahasa ketika berada dalam permainan. Meski begitu dengan rendah hati Guardiola selalu berkata: ‘Bukanlah saya yang menjadikan Messi pemain terbaik, tetapi Messilah yang menjadikan saya pelatih terbaik.