Tingkattkan Ketrampilan, Warga Petungkriyono Membatik

529
MEMBATIK : Warga sembilan desa di Kecamatan Petungkriyono saat mengikuti pelatihan membatik di Kantor Kecamatan Petungkriyono, Kamis (7/12) kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MEMBATIK : Warga sembilan desa di Kecamatan Petungkriyono saat mengikuti pelatihan membatik di Kantor Kecamatan Petungkriyono, Kamis (7/12) kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAJEN–Puluhan warga beberapa desa di Kecamatan Petungkriyono, mengikuti pelatihan membatik dengan motif atau corak lokal, khas Petungkriyono yang mengedepankan flora dan fauna, di Kantor Kecamatan Petungkriyono, Kamis (7/12) kemarin. Kegiatan membatik yang digelar Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja (PMPTSP dan TK) bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kabupaten Pekalongan ini berlangsung 7 hari, untuk memberikan keahlian membatik bagi warga.

Munawaroh, 32, Warga Desa Yosorejo, Kecamatan Petungkriyono, mengungkapkan bahwa warga Kecamatan Petungkriyono menginginkan belajar membatik sudah lama, tepatnya sejak Petungkriyono ramai didatangi pengungjung dari daerah lain dan luar negeri.

Menurutnya, dengan keahlian membatik, warga dapat membuat souvenir atau cinderamata berupa batik dengan tema alam yang ada di Petungkriyono, seperti motif Curug Bajing atau Curug Muncar. “Saya berharap setelah pelatihan membatik ini, kami bisa membuat souvenir batik sendiri untuk dijual. Harapannya, dapat menambah pemasukan bagi keluarga,” ungkap Munawaroh.

Ketua TP PKK Kabupaten Pekalongan, Hj Munafah Asip Kholbihi mengatakan bahwa pihaknya sangat mengapresiasi Dinas PMPTSP dan TK melalui Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Pekalongan dan Pemerintah Kecamatan Petungkriyono, yang telah memfasilitasi pelatihan membatik. “Melalui pelatihan ini, dapat meningkatkan dan memperdayakan potensi dan meningkatkan usaha mandiri,” kata Hj Munafah Asip Kholbihi.

Sementara itu, Sekretaris Dinas PMPTSP dan TK Kabupaten Pekalongan, Rahmawati, menegaskan bahwa peserta pelatihan terdiri atas ibu-ibu rumah tangga. “Saya harap para peserta mengerti dan bisa membuat batik, karena selama tujuh hari ke depan akan langsung praktik. Mereka dipandu oleh instruktur yang selama ini juga pembatik,” tegas Rahmawati. (thd/ida)