KREATIF : Staf Ahli Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Bidang Pengembangan Wilayah, Conrad Hendrarto (dua dari kiri) saat menghadiri pembukaan Pekan Kreatif Nusantara 2017, di Alun- alun Bung Karno (ABK) Ungaran, Kamis (7/12) kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KREATIF : Staf Ahli Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Bidang Pengembangan Wilayah, Conrad Hendrarto (dua dari kiri) saat menghadiri pembukaan Pekan Kreatif Nusantara 2017, di Alun- alun Bung Karno (ABK) Ungaran, Kamis (7/12) kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN–Pertumbuhan ekonomi kreatif di pedesaan terus digenjot Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Sebagai upaya memperkenalkan potensi unggulan yang ada di desa.

Hal tersebut disampaikan Staf Ahli Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Bidang Pengembangan Wilayah, Conrad Hendrarto saat menghadiri pembukaan Pekan Kreatif Nusantara 2017, di Alun- alun Bung Karno (ABK) Ungaran, Kamis (7/12) kemarin. Pekan Kreatif Nusantara kali ini diikuti 84 stan. Baik stan ekonomi kreatif dari Kabupaten Semarang maupun produk- produk ekonomi kreatif dari daerah lain. “Ekonomi kreatif berbasis potensi unggulan desa bisa mendorong peningkatan perekonomian nasional,” ujar Conrad.

Dikatakannya, saat ini ekonomi kreatif di tanah air telah menunjukkan pertumbuhan positif dan memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional. Data statistik tahun 2016 mnunjukkan, dalam kurun waktu 2010 hingga 2015, besaran pendapatan domestik bruto (PDB) dari sektor ekonomi kreatif naik dari Rp 225,9 triliun menjadi 852,24 triliun. Data ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi kreatif mengalami peningkatan rata- rata 10,14 persen per tahun. “Ini merupakan peningkatan yang cukup signifikan,” jelasnya.

Sementara dari sektor tenaga kerja, ekonomi kreatif juga menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan. Dimana mengalami pertumbuhan 2,15 persen. Jumlah tenaga kerja ekonomi kreatif tahun 2015 sebanyak 15,9 juta orang. “Inilah yang menjadi alasan, mengapa ekonomi kreatif dapat menjadi dasar dalam pengembangan ekonomi nasional,” tuturnya.

Dikatakannya, kekuatan ekonomi kreatif terletak pada sumber daya manusianya yang mengandalkan ide- ide kreatif, inovatif dan unik. Indonesia memiliki modal yang cukup besar untuk hal ini. Bahkan setiap daerah memiliki kekhasan, kekhususan dan keunggulan masing- masing, termasuk Kabupaten Semarang. Ekonomi kreatif juga dibangun dengan kecerdasan budaya agar potensi kekayaan bekal yang dimiliki bangsa ini terus digali dan dimanfaatkan sebesar- besarnya untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. “Dalam pengembangan ekonomi kreatif perlu adanya local wisdom, pemberdayaan dan pelibatan seluruh masyarakat,” ujarnya.

Hanya saja, Indonesia akan memiliki penduduk mencapai 274 juta jiwa pada tahun 2025. Akan tetapi ekonomi kreatif membutuhkan sumber daya kreatif yang berkualitas dan setara jender untuk dapat meningkatkan daya saing bangsa. Ini adalah tantangan untuk menciptakan SDM yang mumpuni.

“Ini bukan hanya tugas Pemerintah, tapi tugas kita semua dari para intelektual, lingkungan, peran masyarakat, keluarga, perguruan tinggi dan peran dunia usaha,” katanya. Dikatakannya, dalam menjawab tantangan ini ada berbagai faktor pendukung.

Di antaranya keamanan yang kondusif, sarana pendukung kesejahteraan pendidikan dan kesehatan, ketersediaan sumber daya alam dan budaya. Maka industri kreatif yang beragam dan berdaya saing tersebut, dimana ketersediaan pembiayaan yang mudah diakses dan sesuai sasaran, ketersediaan infrastruktur dan teknologi yang tepat serta dukungan dari kelembagaan dan Pemerintah.

“Sehingga akan menumbuhkan ekonomi kreatif di pedesaan yang memberikan cukup besar terhadap perekonomian di daerah hingga nasional,” tandasnya. Untuk itu, ia menekankan pentingnya pemerintah dea melek internet.

Sehingga masing- masing desa dapat mempromosikan keunggulan dan potensi yang dimiiki. Pemkab Semarang telah mendorong desa untuk menganggarkan teknologi IT, membuat web melalui Dana Desa (DD). (ewb/ida)