RAWAT TANAMAN: Petugas pengelola Kebun Bibit Senopati Magelang Selatan, Muatip, sedang merawat bibit tanaman porang, Kamis (7/12) kemarin. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU)
RAWAT TANAMAN: Petugas pengelola Kebun Bibit Senopati Magelang Selatan, Muatip, sedang merawat bibit tanaman porang, Kamis (7/12) kemarin. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU)

MAGELANG–Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang saat ini getol membudidayakan tanaman porang (amorphopallus oncophillus) yang memiliki banyak manfaat. Tanaman porang bisa digunakan sebagai bahan pengawet alami untuk makanan terutama mi. “Porang sudah banyak dibudidayakan di Jawa Timur, karena banyak manfaatnya. Umbinya bisa untuk bahan lem, mi, tahu, perekat tablet, pembungkus kapsul, dan penguat kertas,” kata Kepala Disperpa, Sri Retno Murtiningsih, Kamis (7/12) kemarin. Retno menambahkan, “Kalau untuk makanan, porang bisa menjadi bahan pencampur mi yang sifatnya mengawetkan dan mengenyalkan. Karena awet, porang bisa sebagai pengganti borax.”

Masih menurut Retno, porang termasuk tumbuhan semak namun sangat prospektif, karena punya nilai ekonomi cukup tinggi. Saat ini porang sudah banyak dimanfaatkan di dunia industri dan kesehatan. “Karena kandungan zat yang ada di dalam umbinya, porang bisa menggantikan borax sebagai pengawet. Sehingga bisa mendukung upaya memasyarakatkan makanan sehat.”

Retno mengklaim, pihaknya sudah melakukan ujicoba dengan menggandeng produsen mi di Kota Magelang. “Hasilnya bagus dan memang awet. Mi ditaruh di ruang terbuka selama tiga hari tetap bagus. Maka, kami anjurkan penggunaan porang ini untuk mi. Porang banyak diekspor ke Jepang untuk dibuat tepung sebagai bahan makanan khas Konyaku dan Shirataki.”

Sudah hampir satu tahun, Dinas Pertanian dan Pangan membudidayakan porang. Ada sekitar 20.000 bibit ditanam di Kebun Bibit Senopati, Jalan Senopati. Saat ini porang sudah mulai tumbuh. Penanamannya melalui dua cara. “Dengan katak dan umbi. “Agar bisa dipanen umbinya, kira-kira butuh waktu sekitar 1,5-2 tahun. Cukup lama, tapi hasilnya sangat menjanjikan.”

Petugas Pengelola Kebun Bibit Senopati, Muatip saat ditemui di Kebun Bibit Senopati, menjelaskan, porang merupakan tumbuhan liar. Karena itu, bisa tumbuh di hampir segala jenis tanah serta tahan terhadap penyakit. Bahkan, tutur Muatip, ulat maupun hama lain tidak menyukai porang. Tanaman ini sebaiknya di tanam di tanah yang gembur dan subur; serta tidak becek. “Porang sangat bagus ditanam di sekitar tanaman pohon jati, mahoni, sono, dan lainnya, yang dapat menaungi porang di bawahnya.” Tinggi porang sekitar 100-150 cm, dengan hasil penen berupa umbi seberat 5-6 kilogram.

Mengolah umbi porang, saran Muatip, harus hati-hati dan teliti, karena sifatnya yang gatal. Karena itu, umbi porang harus benar-benar bersih dan diolah sesuai aturan. “Harga umbi porang basah sekitar Rp 3.500/kg. Sementara umbi porang kering mencapai Rp 75.000-Rp 80.000/kg.” Untuk sementara, pasar porang ada di Surabaya dan diekspor ke Jepang. “Jadi, peluang mengembangkan porang sebagai tanaman bernilai ekonomis tinggi sangat terbuka,” pungkas Muatip. (cr3/isk)