Targetkan 2030 Demak Bebas HIV/AIDS

100
BERI PENJELASAN: Talkshow Hari AIDS sedunia yang digelar Dinkes dan Komisi Pemberantasan Penyakit AIDS, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERI PENJELASAN: Talkshow Hari AIDS sedunia yang digelar Dinkes dan Komisi Pemberantasan Penyakit AIDS, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK – Pemkab Demak melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat menargetkan pada 2030 Kabupaten Demak bisa bebas (free zero) penyakit HIV/AIDS. Karena itu, banyak hal yang dilakukan untuk mencapai target tersebut. Diantaranya, bagaimana melakukan upaya agar tidak ada penularan kasus baru.

Selain itu, berupaya menurunkan angka kematian penderita HIV/AIDS serta mencegah terjadinya stigma atau diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS. Demikian disampaikan Kepala Dinkes Guvrin Heru Putranto melalui Kebid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Heri Winarno disela talkshow dalam rangka Hari AIDS sedunia di Hotel Amantis, kemarin.

Talkshow menghadirkan narasumber dr Lisa Novi Puspitasari SpPD (RSUD Sunan Kalijaga), Muhamad Saleh Indra dan Suyati, penderita HIV dari Karanganyar. Menurutya, data terbaru menyebutkan, bahwa penderita HIV/AIDS secara kumulatif tercatat 396 orang. Khusus pada 2017 ini ada 49 orang penderita.

Dari jumlah penderita itu, 21 persen kasus AIDS dan 16 persen telah meninggal serta 44 persen perempuan dan 56 persen laki laki. Diakui, penyakit tersebut ibarat gunung es. Tampak dipermukaan lebih sedikit dibandingkan yang sebenarnya. “Nah, faktor risiko terbanyak 87 persen  heteroseksual atau prilaku menyimpang masyarakat,” katanya.

Karena itu, kata Heri, untuk mencapai target bebas HIV/AIDS itu, strategi yang dijalankan adalah STOP. Yaitu, suluh (sosialisasi), temukan (penderita), obat (diobati), dan pertahanan (penderita minum obat terus). Dia menambahkan, selama ini dipuskesmas sudah tersedia alat untuk pemeriksaan HIV/AIDS.

Namun, dari sosialisasi  atau penyuluhan ke masyarakat masih sangat kurang. Karenanya, yang mau diperiksa tidak ada. Mereka rata rata malu untuk diperiksa. Padahal, jika dilakukan pemeriksaan HIV/AIDS sejak dini maka dapat tertangani atau terkontrol dengan baik. “Untuk ibu ibu hamil kita sarankan periksakan diri supaya terdeteksi ada HIV atau tidak, termasuk bagi calon pengantin lebih baik periksa dulu sebelum menikah,” katanya.

Asisten 3 Setda, Windu Sunardi berharap, penderita HIV/AIDS ibarat orang kecelakaan lalulintas. “Korban lakalantas itu paling banyak mereka yang usia produktif dan yang mengalami lakalantas itu biasanya yang suka melanggar rambu rambu. Begitupula, HIV/AIDS penderitanya mayoritas usia produktif dan yang berisiko tinggi adalah mereka yang mengabaikan atau melanggar aturan atau norma kehidupan,” ujarnya. (hib/bas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here