Kontribusi Tol, Turunkan Inflasi, Naikkan Ekonomi

95
PAPARAN : Kepala BI Tegal, Joni Marsius saat menyampaikan paparan dalam pertemuan tahunan Bank Indonesia bertema Memperkuat Momentum, Rabu (6/12) kemarin. (LUTFI HANAFI /JAWA POS RADAR SEMARANG)
PAPARAN : Kepala BI Tegal, Joni Marsius saat menyampaikan paparan dalam pertemuan tahunan Bank Indonesia bertema Memperkuat Momentum, Rabu (6/12) kemarin. (LUTFI HANAFI /JAWA POS RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN-Dengan adanya proyek pembangunan jalan tol, mendorong iklim investasi di Karesidenan Pekalongan semakin bagus. Bahkan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan dan berkontribusi membuat inflasi juga turun.

Hal tersebut terungkap dalam pertemuan tahunan Bank Indonesia dengan tema Memperkuat Momentum yang digelar oleh Bank Indonesia Tegal, Rabu (6/12) kemarin. Kepala BI Tegal, Joni Marsius mengatakan bahwa tol di Karesidenan Pekalongan memiliki pengaruh positif. Terbukti dengan tol, kawasan industri di Tangerang kini melirik lokasi baru di wilayah ini.

“Dengan adanya tol, otomatis industri tidak khawatir dengan transportasi. Selain itu, berbagai produk menjadi lebih murah, karena didukung transportasi yang mudah dan murah,” ucapnya.

Bahkan, Bank Indonesia Tegal memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun 2018 di Karesidenan Pekalongan akan naik 0,1 persen. Jika tahun 2017 di angka 5,3-5,7 persen, tahun 2018 diperkirakan akan naik jadi 5,3-5,8 persen.

Lebih lanjut, kata Joni, terkait kegiatan pertemuan Tahunan Bank Indonesia, memang digelar rutin setiap akhir tahun untuk menyampaikan pandangan Bank Indonesia mengenai kondisi perekonomian terkini, tantangan dan prospek ke depan, serta arah kebijakan Bank Indonesia. Pertemuan ini dihadiri oleh kepala daerah, pimpinan perbankan, pimpinan korporasi nonbank, dan akademisi.

“Stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan Indonesia tetap terjaga pada tahun 2017, ditopang oleh kebijakan yang kredibel. Hal ini mendapat tanggapan positif dari berbagai lembaga, antara lain lembaga pemeringkat Standard & Poor’s yang menaikkan rating kredit Indonesia menjadi investment gride,” jelas Joni Marsius.

Meskipun demikian, ekonomi Indonesia masih mengalami tantangan, baik global maupun domestik. Untuk itu, semua pemangku kebijakan perlu melanjutkan upaya-upaya memperkuat momentum pemulihan dengan kebijakan ekonomi yang progresif. (han/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here