28.3 C
Semarang
Jumat, 13 Desember 2019

Jadwal Pentas Tari Perlu Dikaji Ulang

Must Read

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden...

MAGELANG – Rencana pementasan tari tradisional di Pendopo Mantiyasih, Kampung Meteseh, Kelurahan Magelang, Magelang Tengah yang diadakan setiap Minggu Pahing, diminta untuk dikaji kembali. Pementasan tersebut bisa berbenturan dengan kegiatan lain yang selama ini sudah berjalan.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Magelang Aktib Sundoko berharap jadwal pementasan bisa diganti. “Soal hari karena Minggu Pahing, saya minta supaya ada evaluasi. Jangan sampai nanti berbenturan dengan kegiatan lain yang sudah ada, seperti Pengajian Pahingan di Masjid Kauman,” kata Aktib.

Politisi Nasdem tersebut menjelaskan, akan terasa lebih efektif jika keramaian di Kota Magelang tidak terpusat pada hari tertentu saja. Namun, ada hari-hari lain agar warga luar daerah kembali berbondong-bondong datang untuk datang dan berwisata.

“Jadi tidak hanya pada Minggu Pahing saja Kota Magelang ramai, setelah itu hari lainnya sepi. Saya harap bisa diganti, tidak harus Minggu Pahing, supaya keramaian semakin merata,” papar Aktib.

Meski demikian, Aktib sepakat jika pementasan tari tradisional di Pendopo Mantiyasih yang diprakarsai oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang digelar secara rutin. Langkah ini merupakan sarana berkreasi puluhan sanggar tari dari Kota Magelang agar dapat terus mengasah kemampuannya. Wacana festival tarian tradisional di Pendopo Mantiyasih, merupakan bentuk pelestarian budaya sehingga patut diapresiasi dan didukung.

Pandangan berbeda disampaikan oleh anggota Komisi A DPRD Kota Magelang Tyas Anggraeni. Tyas menilai, segmentasi warga yang mengikuti Pengajian Pahingan dengan penonton festival tarian di Pendopo Mantiyasih nantinya sudah berbeda. Sehingga waktu yang bersamaan tidak perlu dipermasalahkan lagi.

“Justru akan menambah daya tarik wisatawan, karena kalau di Kota Magelang, tiap Minggu Pahing ada berbagai kegiatan. Jadi nanti masyarakat bisa memilih sendiri,” kata politisi Hanura tersebut.

Kepala Dinas P dan K Kota Magelang, Taufiq Nurbakin menjelaskan, rencana jadwal pelaksanaan pementasan tari tradisional di setiap Minggu Pahing tidak berbenturan dengan kegiatan lain. Pihaknya sudah melakukan kajian dan gelaran pementasan tersebut berlangsung mulai siang hingga sore hari saja. Untuk itu, Taufiq berharap, pertunjukan di Pendopo Mantiyasih bisa memberi hiburan tersendiri bagi warga. “Kegiatan ini sangat bermanfaat karena dapat mengenalkan seni kepada anak-anak sedini mungkin. Maka dari itu Disdikbud akan menggelar program Minggu Pahing di Mantiyasih mulai tahun 2018 nanti,” tandas Taufiq. (cr3/ton)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di timurnya. Kota yang di barat itu,...

Rombak Kurikulum

Reformasi besar-besaran. Di bidang kurikulum pendidikan. Itulah instruksi Presiden Joko Widodo. Kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Kemarin. Kata 'reformasi' saja sudah sangat ekstrem. Apalagi...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -