Elpiji 3 Kilogram Langka

144
Diah Sunarsasi (IST)
Diah Sunarsasi (IST)

SALATIGA – Pemkot Salatiga harus segera mengambil langkah tegas dan strategis, menyikapi keresahan masyarakat terkait langkanya gas elpiji 3 kg di pasaran. Keresahan yang dibiarkan akan memunculkan pemikiran negatif. Selain itu, kelangkaan elpiji 3 kg tersebut akan berdampak buruk pada kegiatan perekonomian pelaku usaha kecil.

“Sekarang ini hampir semua masyarakat sudah mengandalkan elpiji 3 kilogram untuk memasak dan berbagai kebutuhan dapur lainnya. Kebanyakan kaum perempuan yang protes bila gas tidak ada di pasaran,” ujar Wakil Ketua DPRD Kota Salatiga Diah Sunarsasi. Ia mendapatkan laporan dari masyarakat yang mulai kesulitan mendapatkan elpiji bersubsidi tersebut.

Menurut dia, banyak usaha kecil atau pedagang makanan yang menggunakan gas elpiji 3 kg, tidak bisa beraktivitas berjualan seperti biasanya. Mereka mengandalkan gas elpiji 3 kg, karena bila memakai gas elpiji dengan tabung kapasitas 5,5 kg atau 12 kg, maka tidak bisa meraih keuntungan.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Salatiga Muthoin saat dikonfirmasi wartawan menerangkan, pihaknya telah melakukan rapat koordinasi dengan instansi terkait termasuk Hiswana Migas Kota Salatiga. Menurutnya, secara nasional plafon subsidi gas elpiji 3 kg sudah melebihi batas.

“Di Kota Salatiga jatah gas elpiji 3 kg sebesar 2.692.251 tabung untuk tahun 2017. Hingga Agustus lalu sudah terpakai sekitar 1.700.000-an tabung gas. Pemkot berkait kondisi saat ini sudah meminta tambahan kuota tetapi tidak bisa, karena memang tidak mendapat persetujuan,” jelas Muthoin.

Di sisi lain, akibat kenaikan harga tabung gas elpiji ukuran 5,5 kg (bright) dan ukuran 12 kg (biru), mengakibatkan banyak konsumen yang beralih kembali menggunakan tabung gas ukuran 3 kg. Harga gas per kilogram untuk bright naik Rp 5 ribu dan gas biru Rp 10 ribu. Khusus untuk aparatur sipil negara (ASN), Pemkot Salatiga telah mengimbau ASN agar menjadi contoh dan tetap menggunakan gas 5,5 kg.

Permasalahan lainnya adalah, gas untuk jatah Kota Salatiga banyak yang terjual kepada warga di Kabupaten Semarang. Kondisi tersebut tidak bisa dihindari, karena warga Kabupaten Semarang, seperti Kecamatan Pabelan, Kecamatan Tuntang, Kecamatan Getasan, dan lainnya, berbelanja gas dari kuota jatah warga Salatiga. “Kami sangat berharap agar agen dan pengecer memrioritaskan pembeli dari Kota Salatiga dengan dasar KTP yang dimiliki, meski itu sulit praktiknya,” kata Muthoin. (sas/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here