Disiplin Positif, Semangat Cegah Bullying

183
ANTI PERUNDUNGAN : Perwakilan siswa SMP 17, Kepala SMP 17 Mukaromah, Kementerian P3A, dan Kepala Unicef perwakilan Jawa, Arie Rukmantara saat kegiatan Roots Day: Deklarasi Pencegahan Perundungan atau Bullying di Sekolah, yang dilaksanakan di Lapangan SMP 17 Semarang, Rabu (6/12) kemarin. (AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)
ANTI PERUNDUNGAN : Perwakilan siswa SMP 17, Kepala SMP 17 Mukaromah, Kementerian P3A, dan Kepala Unicef perwakilan Jawa, Arie Rukmantara saat kegiatan Roots Day: Deklarasi Pencegahan Perundungan atau Bullying di Sekolah, yang dilaksanakan di Lapangan SMP 17 Semarang, Rabu (6/12) kemarin. (AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG-Pemberian sanksi atau hukuman dari guru kepada siswa juga masuk dalam kategori perilaku perundungan atau bullying. Pasalnya, hukuman atau sanksi yang diberikan terkadang tidak sesuai dengan pelanggaran siswa. Hal itu, tidak memberikan efek kesadaran bagi para pelaku perbuatan negatif di sekolah.

Hal tersebut disampaikan Kepala Unicef perwakilan Jawa, Arie Rukmantara di sela kegiatan Roots Day: Deklarasi Pencegahan Perundungan atau Bullying di Sekolah, yang dilaksanakan di Lapangan SMP 17 Semarang, Rabu (6/12) kemarin.

“Misalkan, siswa terlambat atau makan di kelas. Dia disetrap atau disuruh berdiri di tengah lapangan. Itu mungkin menimbulkan efek jera, tetapi hukuman itu belum mampu membuat siswa menyadari bahwa yang dilakukannya itu salah,” jelas Arie.

Karena itulah, kata Arie, pihaknya melakukan deklarasi pencegahan bullying sebagai puncak dari rangkaian proses panjang pencarian agent of change yang dibentuk oleh Unicef bekerjasama dengan Yayasan Setara. Semarang dan Klaten menjadi pilot project di Jateng, setelah sebelumnya kegiatan serupa berhasil dilakukan di Papua.

Arie mengatakan, program penerapan agent of change untuk siswa dan disiplin positif bagi para guru ini telah berhasil dilakukan di Papua. Oleh karenanya, di Jawa Tengah, Kota Semarang dan Kabupaten Klaten yang terpilih ada beberapa sekolah. Di antaranya SMP 17 Semarang dan SMP 33 Semarang sebagai pilot project.

“Tentunya, kami harapkan 40 siswa yang telah mengikuti pendampingan selama hampir 4 bulan benar-benar bisa menjadi agent of change dan menebarkan semangat disiplin positif. Harapannya bisa menciptakan suasana nyaman dalam pembelajaran,” pungkasnya.

Kepala Sekolah SMP 17 Semarang Mukaromah mengatakan, dirinya berterimakasih kepada Unicef dan Yayasan Setara yang telah mempercayakan sekolahnya menjadi salah satu pilot project pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia berharap, para siswa dan guru dapat memulai perubahan untuk meningkatkan prestasi sekolah.

“Dengan penerapan Disiplin Positif ini, kami berharap anak-anak bisa kooperatif dan memahami konsekuensi logis ketika seseorang melakukan pelanggaran atau hal negatif,” katanya.

Acara tersebut dihadiri perwakilan dari Deputi Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi Kementerian Pemberdayaan, Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Kementerian Agama, Dinas P3AKB Provinsi Jateng, Dinas P3A Kota Semarang, dan Yayasan Setara. (tsa/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here