Replika Kastil dari Biskuit Jahe

125
KREATIF : Executive Chef Aston Semarang Hotel and Convention Center, Michael Pandelaki sedang menghias miniatur kastil di lobi hotel, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KREATIF : Executive Chef Aston Semarang Hotel and Convention Center, Michael Pandelaki sedang menghias miniatur kastil di lobi hotel, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Menjelang perayaan Hari Natal dan Tahun Baru, Aston Semarang Hotel and Convention Center membuat replika pohon Natal yang terbuat dari kertas bekas. Selain pohon Natal, juga dibuat replika kastil tua yang menggunakan biskuit jahe. Keduanya ditempatkan di lobi hotel untuk memeriahkan Natal dan Tahun Baru.

Pohon Natal setinggi 3 meter yang disusun dari gulungan kertas bekas, total menggunakan 1.444 gulungan kertas bekas diletakkan pada rangkaian kawat yang berbentuk kerucut, kemudian gulungan kertas bekas ini disemprot dengan cat berwarna hijau agar terlihat seperti pohon natal. “Pembuatannya selama satu minggu dan tak ada kesulitan yang berarti lantaran dikerjakan bersama-sama,” kata Hotel Manager Aston Semarang Hotel and Convention Center, Natalie S. Lukito Senin (4/12).

Sementara untuk hiasan pohon, lanjut Natalie menggunakan hasil daur ulang dari roll tisu toilet kemudian di cat merah dan biru. Pihaknya mengaku sengaja memanfaatkan barang bekas yang sudah tidak terpakai untuk membuat pohon Natal yang cantik ini. “Daripada dibuang, ternyata dengan sedikit kreativitas barang barang bekas ini bisa dimanfaatkan untuk mempercantik lobi hotel kami,” jelasnya.

Terpisah Executive Chef Aston Semarang Hotel and Convention Center, Michael Pandelaki, menerangkan untuk membuat replika kastil, ia memerlukan 1.200 keping biskuit jahe. Biskuit jahe berbentuk persegi panjang berukuran 5 x 2 cm ini ditumpuk rapi di sebuah rangka yang terbuat dari kayu. “Total penggunaan bahan untuk membuat kastil biskuit jahe ini yaitu 3 kilogram jahe segar dan 10 kilogram tepung terigu,” bebernya.

Untuk mempercantik, Michael juga menggunakan 3 kilogram lelehan krim berwarna putih untuk membuat kesan salju. Tema yang coba ia angkat adalah natal di musim dingin. “Biskuit jahe pun dipilih karena mengikuti tradisi Natal di Benua Eropa, disana biskuit jahe merupakan makanan yang harus tersedia,” ungkapnya.

Setidaknya Michael memembutuhkan waktu sekitar 3 minggu untuk membuat kastil tersebut, kesulitan yang dihadapi yaitu biskuit jahe mudah hancur karena lembab. “Kesulitannya adalah harus menjaga kelembaban, jadi suhu ruang diatur di 18 – 20 derajat celcius,” pungkasnya. (den/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here