Pedagang Selular Semakin Resah

Gugat Pembatasan Registrasi Kartu Perdana

14368

SEMARANG Komunitas pedagang selular di Kota Semarang yang beranggota 1.100 orang memprotes kebijakan pemerintah tentang registrasi dan pembatasan kepemilikan kartu perdana selular yang akan diberlakukan mulai 28 Februari 2018 mendatang. Mereka menilai kebijakan tersebut akan mematikan usaha ritel selular kecil di level bawah. Sebab, sejauh ini penjualan kartu perdana paket internet menjadi tulang punggung dalam industri ritel, terutama pedagang kecil.

“Pendapatan utama yang diperoleh ritel selular paling besar dari penjualan kartu perdana data internet. Sehingga kartu perdana ini bisa dibilang menjadi tulang punggung dalam ritel,” kata Sekretaris Jenderal Kesatuan Niaga Celular Indonesia (KNCI)-Komunitas Pedagang Selular Jateng-DI Jogjakarta, Wiyoto, Senin (4/12).

Sehingga rencana kebijakan pemerintah yang akan membatasi kepemilikan kartu perdana seluler, dan akan diberlakukan pada 28 Februari 2018 mendatang, membuat pedagang resah. Nantinya, setiap orang registrasi menggunakan satu nomor KTP dan KK (Kartu Keluarga) hanya diperbolehkan maksimal memiliki tiga kartu. Masing-masing kartu memiliki tiga kali registrasi, setelah itu diblokir.

Kalau itu dilaksanakan akan membunuh pedagang ritel kecil atau tradisional channel. Kami sebagai pihak yang banyak dirugikan. Anehnya, khusus modern channel yang direkomendasikan operator diperbolehkan registrasi sendiri. Atas hal itulah kami akan menggugat,” ujar Wiyoto.

Pihaknya mengaku mendukung kebijakan registrasi menggunakan nomor KTP dan KK tersebut. Tetapi menolak untuk pembatasan jumlah kepemilikian kartu perdana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here