33 C
Semarang
Kamis, 24 September 2020

Ganjar Sang Gubernur Ketoprak

Luwes dan selalu Sisipkan Pesan Moral

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

SEMARANG- Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, punya banyak julukan. Di antaranya Gubernur Twitter, Senopati Tembakau, Gubernur Gowes, dan Bapak Jaran Kepang. Namun kini ia punya julukan baru, yakni Gubernur Ketoprak.

Gubernur Twitter muncul karena aktivitasnya melayani pengaduan masyarakat lewat media sosial. Senopati Tembakau adalah julukan yang disematkan para petani tembakau, karena kegigihan Ganjar membela penanam emas hijau itu. Gubernur Gowes jadi trademark karena kegilaannya bersepeda ratusan kilometer. Sementara Bapak Jaran Kepang dihadiahkan oleh para seniman kuda lumping Temanggung.

Nah, belum banyak masyarakat yang sadar bahwa Ganjar sangat aktif bermain ketoprak. Sejak menjabat gubernur, pria berambut putih ini telah puluhan kali manggung. Terakhir, ia bermain di Alun-Alun Kabupaten Pati pada Jumat, 24 November 2017 lalu. Dalam pergelaran ketoprak Projo Budoyo yang mengambil lakon “Sumilaking Pedhut ing Bumi Mataram” tersebut, Ganjar mengambil peran sebagai Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram.

Selain Bupati Pati Haryanto, sejumlah bintang tamu juga turut manggung. Di antaranya, Yati Pesek, Gareng Semarang, dan Ki Dalang Warseno Slank. Penampilan mereka di atas panggung menarik perhatian lebih dari seribu penonton.

Dua puluh hari sebelumnya atau 3 November Ganjar berperan sebagai Sang Hyang Wenang ketoprak dengan lakon Semar Mbangun Kahyangan di Auditorium Imam Bardjo, Kampus Undip Pleburam.

Pada bulan Agustus, Ganjar setidaknya dua kali manggung. Pertama, pada peringatan hari jadi Klaten, ia main sebagai Dharmadyaksa dalam lakon “Amukti Palapa.” Kemudian pada pesta rakyat Hari Jadi Pemprov Jateng di Jepara, Ganjar memerankan Adipati Cirebon bernama Pangeran Dirgonegoro. Pada lakon Banjaran Haryo Penangsang di kawasan parkir Alun-Alun Jepara itu, Ganjar sukses memantik tawa penonton berkat selendangnya yang melorot.

Selendang Ganjar melorot dan hampir terlepas ketika ia mencoba menarik keris dari pinggulnya. “Pak, melotrok niku lho.. (Pak, itu selendangnya melorot),” teriak salah satu penonton diiringi tawa sejumlah penonton lainnya.

Entah disengaja atau tidak, dalam setiap pentas, tingkah Ganjar memang sering memicu tawa penonton. Ketika pertama kali bermain bersama Ganjar, Yati Pesek bahkan mengaku terkejut dengan keluwesan Gubernur Jateng itu bermain ketoprak. “Pak Ganjar bisa ngelawak, saya malah kalah lucu,” katanya usai bermain bersama di Taman Budaya Raden Saleh Semarang pada 2015 silam.

Yati mengungkapkan rasa bangganya melihat Ganjar begitu aktif dan peduli pada seni tradisi. “Saya bangga sekali. Kalau ada 10 pemimpin daerah atau gubernur seperti Pak Ganjar, seni budaya kita akan semakin sukses,” ujarnya.

Menurut Yati, di tengah-tengah kesibukan sebagai Gubernur Jateng, Ganjar masih menyempatkan waktu menghibur, bermain ketoprak bersama para seniman. “Kalau bukan priyayi yang peduli seni budaya, beliau tidak mungkin berada di sini malam ini,” imbuh Yati.

Ganjar mengatakan, bermain ketoprak sesungguhnya lebih sulit dari yang dilihat orang. Ia sendiri awalnya grogi karena harus menghafalkan sekian banyak dialog. Namun setelah sekian kali pentas, sekarang ia cukup menghafal alur cerita kemudian improvisasi di panggung.

Menurut Ganjar, selain karena suka, keaktifannya bermain ketoprak sebagai aksi nyata kepedulian pada kesenian tradisional. “Jadi, pemimpin jangan cuma ngomong nguri-uri kabudayan tok, tapi aksi, ini sepele tapi yo angel (susah). Harapannya mereka dan generasi muda bisa nguri-uri (melestarikan) budaya,” katanya.

Selain itu, kata dia, seni tradisi adalah sarana bagus untuk menyelipkan pesan moral dan kebajikan pada masyarakat. Ia menyontohkan saat bermain ketoprak di Gedung Kesenian Jakarta tahun lalu. Saat itu, ia berperan sebagai Raja Hayam Wuruk yang sedang berjuang menyatukan kembali Majapahit setelah diserbu pasukan dari Tiongkok.

Cerita berintikan pesan bahwa seluruh lapisan masyarakat harus bersatu padu demi keberhasilan pembangunan. “Di ending cerita kita menyampaikan bahwa ternyata kita tetap bisa bersatu untuk menegakkan harga diri Majapahit. Maka masing-masing dari kita bisa ikut berkontribusi dalam menyelesaikan masalah bangsa dan negara. Kalau ini bisa kita sinergikan, kita lepaskan baju kelompok dan partai politik demi persatuan,“ tegasnya. (amh/hms/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Mirna Kembali Bawa Kendal Raih WTP

RADARSEMARANG.COM, KENDAL—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kendal mendapatkan predikat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) untuk kali keduanya atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) dari Badan Pemeriksa...

20 Lapak Jasa Tukar Uang Digulung

RADARSEMARANG.COM, SOLO – Satpol PP Surakarta membidik lapak jasa penukaran uang baru yang biasanya bertebaran di tepi jalan utama ketika mendekati Lebaran. Sedikitnya 20...

Sentra Kerajinan Anyaman

PABELAN – Di Desa Terban Kecamatan Pabelan terdapat sentra pembuatan kerajinan dari anyaman bambu. Sejumlah produk seperti besek, tompo, tenggok dan beberapa kerajinan lainnya dibuat oleh sebagian...

Tadarus Alquran

RADARSEMARANG.COM - Aksi mahasiswa Unnes semula berlangsung damai, dibarengi dengan membaca Alquran. Namun tetap mogok bicara dengan menutup masker pada hari ke empat di...

Jalan Tikus, Ikutan Macet

SEMARANG - Pemberlakuan jalan searah, justru menambah parah kemacetan di berbagai tempat. Bahkan, jalan-jalan di perkampungan ikutan padat, lantaran banyak yang memilih jalan pintas. Seperti...

Banyak Pengusaha Belum Punya NPWP

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID - Belum semua para pengusaha dan pelaku usaha di Kabupaten Magelang memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) dalam menjalankan usahanya. "Yang sudah...