SERAHKAN WAKAF : Pengasuh Pondok Pesantren Tazaka saat menandatangani akta wakaf, disaksikan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto, Habib Lutfi Bin Yahya dan Wabup Batang Suyono. (Lutfi Hanafi /Jawa Pos Radar Semarang)
SERAHKAN WAKAF : Pengasuh Pondok Pesantren Tazaka saat menandatangani akta wakaf, disaksikan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto, Habib Lutfi Bin Yahya dan Wabup Batang Suyono. (Lutfi Hanafi /Jawa Pos Radar Semarang)

BATANG – Pesantren dan TNI merupakan satu kesatuan. Bahkan dalam sejarah zaman perjuangan kemerdekaan Indonesia, banyak panglima perang dulu berasal dari pesantren. Hal tersebut ingin diperkuat Yayasan Pondok Pesantren Tazakka dengan mewakafkan tanahnya kepada TNI AD untuk Kantor Koramil Bandar.

Akta wakaf diserahkan langsung Pengasuh Pondok Modern Tazakka, KH Anang Rikza Masyhadi kepada Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto. Yang bertepatan dengan acara Silaturahmi Kebangsaan di Ponpes setempat, Bandar, Kabupaten Batang, Sabtu (2/12).

KH Anang Rikza Masyhadi mengatakan, ditengah suasana kebangsaan sekarang ini hubungan TNI-masyarakat khususnya pesantren harus kembali ke khittah. Dengan saling melengkapi dan saling membutuhkan.

“Pesantren-TNI seperti dua mata sisi uang yang tidak terpisahkan, hubungan ini sudah sejak zaman kemerdekaan, terbukti banyak pemimpin dari kalangan pesantren,” ucap ulama lulusan Mesir ini.

Untuk itu, pihaknya memberikan tanah wakaf tersebut untuk membangun kantor Koramil Bandar. Yang mana selama ini, masih menumpang di tanah milik desa.

Habib Lutfi Maulana Bin Yahya dalam tausiyahnya mengkhawatirkan saat ini pengetahuan sejarah semakin menipis. Jika segera tidak ditangani, maka sejarah akan kabur. “Jangan sampai bangsa ini kepaten obor (matinya api). Kalau hilang cahaya bangsa ini akan hilang arah,” pesannya.

Menurut Habib, sejarah merupakan fundamen sebuah bangsa. Rakyat kalau mengenal Indonesia secara mendalam akan bangga sekaligus muncul keprihatinan yang sangat mendalam. Sebab Indonesia yang kaya raya belum sepenuhnya dikelola dengan baik.

“Seharusnya kita menguasai berbagai sektor seperti pendidikan ekonomi kesehatan dan lainnya. Maka kita tidak tergantung dengan bangsa lain dan bangsa luarlah yang harus tergantung dengan Indonesia,” bebernya.

Pangdam IV/Diponegoro Mayjen Wuryanto mengungkapkan kekagumannya dalam acara kemarin. Mulai dari santri Ponpes Tazaka yang berasal dari 21 provinsi, bahkan hampir mewakili suku – suku bangsa yang ada di Indonesia. “Saya kagum dengan acara ini karena dihadiri semua komponen bangsa. Ini hal yang sangat luar biasa dan dapat menjadi contoh untuk daerah–daerah lain,” katanya.

Jenderal bintang dua tersebut juga menyampaikan, bahwa setiap komponen bangsa memiliki tugas dan tangung jawab sesuai fungsi masing–masing. Apabila TNI, Polri dan segenap komponen masyarakat dapat bersatu, hal itu merupakan satu kekuatan yang luar biasa sehingga tidak mudah dipecah belah dan diadu domba.

“Bangsa Indonesia memang memiliki keberagaman, walaupun beraneka ragam Indonesia mempunyai perekat bangsa yaitu Pancasila sehingga tidak mudah bagi bangsa lain untuk menguasai Indonesia,” ucapnya.

Wakil Bupati Batang Suyono juga mengatakan, TNI dan Polri tidak sendirian dalam menjaga keutuhan negara karena bersatu dengan rakyat. Dan bela negara tidak harus dengan mengangkat senjata.

“Kita harus membela negara dengan benar walaupun dengan cara yang berbeda dengan membangun bangsa yang maju, walau memiliki keberagaman tetapi tetap menjadi satu bangsa Indonesia,” serunya. (han/ric)