Tewas Tertimpa Bangunan Cagar Budaya

259
ROBOH: Warga membersihkan puing-puing gedung tua di Jalan Sleko RT 06 RW 11, Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang roboh. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ROBOH: Warga membersihkan puing-puing gedung tua di Jalan Sleko RT 06 RW 11, Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang roboh. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG- Bangunan tua di Jalan Sleko RT 06 RW 11, Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara tiba-tiba ambruk, Sabtu (2/12) pagi kemarin. Akibatnya, Suparti, 60, yang tinggal seorang diri di rumah bedeng di dekat bangunan cagar budaya tersebut tewas tertimpa reruntuhan.

Menurut saksi mata di lokasi kejadian, Sunaryo, 55, peristiwa itu terjadi Sabtu (2/12) sekitar pukul 04.30. Ia sempat mendengar suara gemuruh bangunan runtuh ketika sedang kongkow di ujung gang dekat rumahnya.

“Awalnya dengar suara keras ‘bruk’, terus kabel listrik di sebelah situ korslet. Tadinya ya penasaran, kemudian saya kesitu lihat tembok bangunan itu roboh,” ungkapnya, Sabtu (2/12) kemarin.

Sunaryo juga menjelaskan, bangunan yang roboh tersebut menimpa sebuah bangunan semi permanen yang dihuni seorang warga bernama Suparti. Penghuni rumah yang sedang berada di dalam tidak sempat menyelamatkan diri hingga ikut tertimpa material bangunan dan meninggal dunia. “Orangnya meninggal, hanya satu orang,” katanya.

Warga lain, Damiyati, 56, mengaku, sebelumnya telah melihat beberapa batu bata bangunan tersebut jatuh dari atas sebelum mengalami roboh. Ia sempat berpikir akan ada sesuatu dari yang dilihatnya pada Jumat (1/12) sekitar pukul 12.00 tersebut.

“Saya sempat khawatir, karena batunya sudah mulai berjatuhan. Saya juga sudah bilang ke Mbah Suparti agar segera keluar dari rumahnya. Tapi kurang mendapat respons, ternyata benar, pagi-pagi ramai bangunan itu dikabarkan roboh,” bebernya.

Kapolsek Semarang Utara, Kompol Andis Arfan Tofani, mengatakan, bangunan kuno yang disebut gedung Syahbandar merupakan bangunan tua. Pihaknya juga menilai, bangunan yang sudah lapuk dimakan usia itu sangat membahayakan. “Kalau tinggalnya berdekatan ya sangat bahaya sekali, itu rawan runtuh,” ujarnya.

Terkait korban meninggal, Andis Arfan Tofani mengatakan pihak keluarga korban telah diberi kabar. Bahkan, pihak keluarga juga menolak jenazah dilakukan otopsi dan memilih dibawa pulang untuk dimakamkan.

“Korban, tadi langsung dievakuasi, diambil pihak keluarga untuk di makamkan,” imbuhnya.

Camat Semarang Utara, Aniceto Magno da Silva, mengaku, telah memiliki rencana untuk melakukan relokasi kepada penghuni sekitar bangunan tua tersebut. Termasuk bangunan liar yang berada di bahu jalan, karena juga berdiri di atas saluran air.

“Di situ liar, ada sekitar 35 bangunan. Saya juga sudah meminta kepada lurah setempat untuk mendata berapa jumlah di situ, nanti yang warga Semarang asli akan kita relokasi ke rumah susun. Kalau untuk yang pendatang nanti kita pertimbangkan,” tegasnya.

Sementara, bangunan kuno yang menimpa rumah semi pemanen di kawasan Kota Lama Semarang merupakan bangunan cagar budaya. Menanggapi hal ini, Pemerintah Kota Semarang segera meminta PT Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai pengelola untuk mengamankan, dan melakukan konservasi bagian bangunan yang rawan roboh.

“Sejak dulu sudah saya mintakan untuk dikonservasi, dan saya sudah sampai audiensi ke PGN pusat. Saya mau kontak ke PGN untuk meminta segera mereka mengamankan dan mengkonservasi bangunan tersebut,” kata Ketua Badan Pengelolaan Kawasan Kota Lama Semarang (BP2KL), Hevearita Gunaryati Rahayu alias Ita.

Namun demikian, pihaknya juga mengatakan dari PT PGN, termasuk warga, juga sudah memasang spanduk peringatan dan imbuan agar para penghuni rumah bedeng yang ada didekat bangunan tua itu untuk berpindah. Kerena, sangat rawan dan membahayakan.

“Bangunan itu dulu merupakan pintu masuk Kota Lama,” jelas wanita yang juga menjabat Wakil Wali Kota Semarang ini.

Ita menjelaskan, sekarang ini Pemkot Semarang dan BP2KL sudah berusaha melakukan langkah penanganan bangunan cagar budaya yang ditelantarkan pemiliknya sesuai arahan Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum dan HAM.

“Pemkot dan BPK2L juga akan menindaklanjuti arahan dari Dirjen AHU Kemenhum HAM untuk melakukan langkah penanganan terhadap cagar budaya yang ditelantarkan pemiliknya,” bebernya.

Selain itu, saat ini pihaknya juga tengah membuat kajian atau regulasi terkait bangunan cagar budaya yang ditinggalkan oleh pemiliknya. “Contoh di Belanda, jika 2 tahun pemilik tidak mau mengelola atau mengkonservasi bangunannya, maka bisa dikelola pemerintah. Ini kami masih mengkaji untuk membuat regulasi seperti itu,” imbuhnya. (mha/aro)