BANJIR PARAH: Terminal Terboyo kemarin terendam banjir parah. Meski bus AKDP dan AKAP telah dipindahkan dari Terminal Terboyo ke Terminal Penggaron dan Terminal Mangkang sejak Jumat (1/12) lalu, sejumlah pedagang masih bertahan sekalipun tempat jualannya terendam banjir. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BANJIR PARAH: Terminal Terboyo kemarin terendam banjir parah. Meski bus AKDP dan AKAP telah dipindahkan dari Terminal Terboyo ke Terminal Penggaron dan Terminal Mangkang sejak Jumat (1/12) lalu, sejumlah pedagang masih bertahan sekalipun tempat jualannya terendam banjir. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Gejala alam siklon tropis yang dikenal dengan nama Badai Cempaka dan Dahlia belakangan ini menjadi perhatian banyak pihak. Sebab, dampaknya mengakibatkan banjir terjadi di sejumlah tempat di Pulau Jawa. Tak terkecuali di Kota Semarang.

Sedikitnya ada lima kelurahan di Kecamatan Genuk terendam banjir dan rob. Sebab, Badai Cempaka dan Dahlia ini mengakibatkan ketinggian permukaan air laut mencapai 180 sentimeter di Laut Jawa. Akibatnya, gelombang air laut meningkat dan masuk ke sungai-sungai sebelum akhirnya meluap ke daratan.

Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang mengidentifikasi penyebab banjir dan yang terjadi di wilayah Kecamatan Genuk Kota Semarang akibat pengaruh terjadinya gejala alam siklon tropis yang dikenal dengan sebutan Badai Cempaka dan Dahlia tersebut.

“Ini memang kejadian luar biasa. Kami cek di alat ukur pompa di Kali Semarang, ketinggian permukaan air laut mencapai 180 sentimeter. Ini juga pengaruh terjadinya gejala alam siklon tropis yang dikenal dengan sebutan Badai Cempaka dan Dahlia sebagaimana diumumkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (Gejala alam),” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Iswar Aminudin, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (2/12).

Sedangkan ketinggian sheet pile saat ini 160 sentimeter. Tentu hal ini, menurut Iswar, jelas sangat mempengaruhi kondisi sungai. Sebab, tanggul laut di Sungai Sringin dan Tenggang belum selesai dibangun. “Saat ini baru memasang sheet pile, belum memasang parapetnya. Sesuai rencana, parapet yang dibangun oleh BBWS nanti dengan ketinggian 275 sentimeter,” jelasnya.

Drainase tersumbat, kata dia, tidak mempengaruhi secara signifikan, justru penyebab banjir kali ini karena volume air laut naik secara drastis dan masuk ke sungai kemudian naik ke daratan. “Jumlahnya begitu banyak, sehingga terjadilah rob. Selain itu, hujan dengan intensitas tinggi mengakibatkan sungai di sekitar meluap. Jadi, kali ini dua-duanya, yakni banjir dan rob. Apalagi hujan begitu tinggi intensitasnya ditambah dengan adanya badai Cempaka dan Dahlia itu,” terangnya.