MENGUNGSI : Salah satu titik wilayah banjir di Kota Pekalongan. Warga pun terpaksa mengungsi di tempat yang aman, seperti kantor kecamatan maupun rusun. (Lutfi Hanafi /Jawa Pos Radar Semarang)
MENGUNGSI : Salah satu titik wilayah banjir di Kota Pekalongan. Warga pun terpaksa mengungsi di tempat yang aman, seperti kantor kecamatan maupun rusun. (Lutfi Hanafi /Jawa Pos Radar Semarang)

PEKALONGAN – Ombak besar di pantai pesisir Kota Pekalongan sejak Kamis (30/11) malam, membuat sebagian besar wilayah Kecamatan Pekalongan Utara terendam air rob. Serasa tsunami, air terus berdatangan dari arah laut sejak Jumat (1/12) pagi hingga siang. Akibatnya, ribuan rumah terendam. Bahkan sebagian bangunan porak poranda diterangkan ombak.

“Padahal hingga pukul 07.00, daerah sekitar Jalan Kusuma Bangsa masih kering. Namun tiba-tiba semakin siang air meluap hingga ketinggian setengah meter,” kata Kharisma, salah seorang warga, Jumat (1/12).

Dari pantauan di lapangan tinggi gelombang di pesisir mencapai sekira  1, 5 hingga 2 meter, derasnya gelombang  menghantam tanggul pantai sepanjang 5 kilometer. Sehingga air meluap menuju pemukiman warga.

Dampaknya ribuan rumah, perkampungan warga, akses jalan, sarana umum terendam antara setegah meter hingga dua meter.

Ratusan warga terpaksa dievakuasi ke beberapa titik aman. Sebagian mereka mengungsi di kantor Kecamatan Pekalongan Utara dan ada di rumah susun Slamaran. Sebagian lain mengungsi di sanak keluarga yang tidak kebanjiran dan rumah ibadah yang aman.

Sekda Kota Pekalongan, Sri Ruminingsih, mengungkapkan pihaknya saat ini masih mendata kerusakan yang dtimbulkan akibat fenomena alam ini . Tercatat sebanyak 1.500 orang warga saat ini berada di pengungsian, dan terus bertambah karena air terus meninggi.

“Fokus kita saat ini penanganan warga yang terdampak banjir besar ini, pengungsi kita pusatkan di kantor kecamatan dan rumah susun . Kita sudah menetapkan kondisi darurat bencana,“ jelas Sri Ruminingsih.

Sementara itu Camat Pekalongan Utara Yos Rosyidi menambahkan, daerah yang terendam adalah,  Panjang Wetan,  Panjang Baru, Bandengan,  Padukuhan Kraton,  Krapyak, seluruhnya di Kecamatan Pekalongan Utara. Di Kabupaten Pekalongan yang terparah di Kelurahan Jeruksari, Mulyorejo, Tegal Dowo , Karangjompo Kecamatan Tirto dan di Kecamatan Wonokerto ada di Desa Api- api, Tratebang serta Jambean. Bahkan di daerah Bandengan ada sebagian wilayah dengan ketinggian air hingga leher orang dewasa.

Anggota Polres Pekalongan dan Polsek Pekalongan Utara juga sudah mulai mengevakuasi warga sejak pukul 04.00 subuh. Karena di beberapa daerah, air semakin tinggi ketika menjelang siang, saat pagi air belum terlalu tinggi.

“Kami akan terus memantau semua lokasi banjir, juga akan mengusahakan logistik kepada warga. Terutama yang mendesak makanan dan minuman,” jelasnya.

Wali Kota Pekalongan Saelany Machfudz mengatakan, bahwa salah satu penyebab air yang meluap tidak bisa kembali lancar ke laut akibat saluran air menuju pantai tersumbat.

“Ini saya perintahkan petugas untuk menjebol paksa pintu air. Karena rusak dan tertutup pasir,” kata Saelany saat ditemui di lokasi jalur keluar nya air di Pantai Pasir Sari.

Pihaknya berjanji akan segera memperbaiki pintu air tersebut dalam waktu dekat.

Pada musibah kali ini, kata Saelany, pemkot mengucurkan dana sebesar Rp 1,5 miliar yang diambil dari dana cadangan untuk perbaikan dan logistik sementara dalam bencana kali ini.

“Sementara kami langsung cairkan Rp 1,5 miliar. Untuk logistik pengungsi, serta biaya yang lain. Kemudian kami segera rapat untuk tindakan selanjutnya,” tandas wali kota. (han/zal)