Kasus Kekerasan Seksual Masih Marak

535

MAGELANG – Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Magelang masih menerima laporan tindakan kekerasan seksual terhadap anak. Kasus ini yang paling banyak dilaporkan, dibanding aduan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang mengalami penurunan.

Pada Januari-September 2017, P2TP2A menerima aduan sebanyak 32 kasus asusila yang korbannya perempuan dan 11 kasus dengan korban laki-laki, serta 26 kasus KDRT. Sedangkan pada tahun 2016 ada 60 kasus untuk seluruhnya. Kasus-kasus yang dilaporkan ke P2TP2A justru didominasi dari luar Kota Magelang.

Advokat di P2TP2A Kota Magelang, Lilis Sri Rahayu mengatakan, kasus asusila masih terjadi karena beberapa faktor. Yakni, kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak baik di dalam  maupun di luar rumah, kurangnya pendidikan moral-agama, pengaruh media elektronik, dan juga pendidikan seksual yang tidak sesuai.

“Kita lakukan pencegahan dengan penyuluhan, sosialisasi, kampanye serta memfasilitasi upaya pengingkatan kualitas hidup terhadap perempuan dan anak,” katanya.

Kegiatan itu menyasar ke beberapa sektor. Mulai dari pendidikan, kesehatan, keagamaan, ekonomi, politik dan sosial budaya. “Kami juga berkoordinasi dengan lembaga terkait,” ucapnya.

Sedangkan menurunnya kasus KDRT, kata dia, karena masyarakat sudah melek hukum. Menurutnya, makin banyak masyarakat yang memahami undang-undang tentang KDRT dan memiliki rasa takut terjerat hukum,  bisa sebagai kendali untuk  menahan diri berbuat kekerasan. Terhadap korban kekerasan, ia juga mengimbau tak segan melapor.

“Ada dua pilihan, yang pertama bisa melapor ke P2TP2A, atau bisa juga ke Polres Magelang Kota Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA),” sebutnya.

Selama ini jika pihaknya mendapatkan laporan baik kasus asusila maupun KDRT, langsung ditangani. Langkah awal yang dilakukan adalah pemulihan rohani dan psikologis korban. “Kami lakukan pendampingan terhadap korban. Serta  bekerja sama dengan beberapa instansi terkait perlindungan hukum bagi para korban,” imbuhnya.

Sementara itu, Dinas Sosial (Dinsos) Kota Magelang mencatat ada 74 anak yang memiliki permasalahan sosial. Mulai dari telantar hingga berhadapan dengan hukum.

Petugas Satuan Bakti Pekerja Sosial Perlindungan Anak (Sakti Peksos PA) Dinsos Kota Magelang Denok Rofiah merinci, ada 14 kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH), 18 anak terlantar (antar), 4 anak dengan kecacatan (ADK), serta 32 anak memerlukan perlindungan khusus (AMK). “Kemudian ada 6 anak adopsi,” katanya.

Ia merasa miris ketika masih menemukan kasus penelantaran anak. Mulai dari anak yang sengaja dibuang orangtuanya, sampai kasus ketidakpedulian orangtua terhadap anak. Dia memandang perlunya kesadaran masyarakat terhadap hak-hak anak. (mg6/mg7/put/lis)