MEMILIH BUKU: Perangkat Desa Sendang sedang memilih buku di perpustakaan Desa Cempaka. Perpustakaan ini dikembangkan untuk meningkatkan minat baca warga Desa. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MEMILIH BUKU: Perangkat Desa Sendang sedang memilih buku di perpustakaan Desa Cempaka. Perpustakaan ini dikembangkan untuk meningkatkan minat baca warga Desa. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BANCAK – Kepala Desa Wonokerto, Muh Zuhdi sangat menekankan warganya untuk gemar membaca. Menurutnya membaca merupakan kunci utama untuk menambah ilmu pengetahuan.

Demi mendorong warga agar gemar membaca, Pemerintah Desa telah mengembangkan sebuah perpustakaan di halaman kantor Kepala Desa Wonokerto. Hingga kini, perpustakaan desa yang diberi nama Cempaka ini sudah memiliki sekitar 2000 koleksi buku.

”Koleksinya dulu dari bantuan, kemudian ada dari pihak ke tiga. Ada juga dari masyarakat, mereka memiliki buku yang sudah selesai dibaca kemudian disumbangkan ke perpustakaan ini,” jelas Lades yang memiliki misi mewujudkan Desa Wonokerto menjadi Desa Agamis, Demokratis dan Mandiri ini.

Kades: Muh Zuhdi. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Kades: Muh Zuhdi. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Tidak hanya ruang baca saja yang ditata sedemikian rupa untuk menambah kenyamanan warga, pemerintah Desa juga membangun sebuah tempat baca, seperti gazebo, di belakang perpustakaan.

Di tempat ini, ketika capek membaca warga bisa sejenak menikmati pemandangan berupa areal persawahan. ”Itu untuk membuat warga betah membaca di sini,” katanya.

Agar terbiasa membaca, warga Desa Wonokerto selalu digerakkan untuk datang ke perpustakaan desa, mencari informasi apapun yang dibutuhkan. Upaya menggerakkan warga ini dilakukan,termasuk melalui kegiatan  pengajian, dengan menyisipkan motivasi dan pemahaman akan pentingnya membaca.

Tidak cukup hanya menggerakkan warga untuk datang ke perpustakaan, Pemerintah Desa juga berinisiatif untuk menjemput bola. Buku-buku koleksi perpustakaan seringkali didrop ke pos jaga dan juga posyandu agar dibaca oleh warga.

”Buku-bukunya ya sesuai dengan kebutuhan dan minat mereka. Untuk nge-drop buku, desa ini punya inventaris berupa motor yang sudah diimodifikasi,” Ujar Siti Nurhayati, sekretaris Desa Wonokerto menambahkan Kades.

Dengan koleksi yang cukup lengkap, tidak jarang, buku-buku di perpustakaan  ini dijadikan rujukan bagi siswa siswi setempat untuk mengerjakan tugas sekolah. Bahkan, ada juga mahasiswa yang datang mencari data pendukung untuk mengerjakan skripsinya.

”Ya mereka tanya, saya mau mengerjakan ini Bu kira-kira ada buku yang mendukung tidak? Kemudian dicari. Masih manual kita,” kata dia sembari menceritakan bahwa kepengurusan perpustakaan ini dilakukan dengan cara sukarela.

Ke depan, melalui perpustakaan dan budaya membaca yang bagus, diharapkan Desa Wonokerto mampu menciptakan sumber daya yang berkualitas. (cr4/bas)