LONGSOR : Kepala Dusun Sidomukti Desa Sidomukti Eko Sutrisno saat menunjukkan titik longsor, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LONGSOR : Kepala Dusun Sidomukti Desa Sidomukti Eko Sutrisno saat menunjukkan titik longsor, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN – Tingginya intensitas hujan yang mengguyur Kabupaten Semarang membuat saluran irigasi di Desa Sidomukti Kecamatan Bandungan longsor. Akibatnya, 30 Hektare sawah warga tidak teraliri air.

Kepala Desa Sidomukti Rovik Asari menjelaskan longsor terjadi sejak Minggu (26/11). Saluran irigasi yang berada di ketinggian 300 meter dari permukiman warga tersebut, selain untuk pengairan juga kerap digunakan warga setempat untuk mencuci sayuran. Sayuran merupakan hasil pertanian utama masyarakat setempat.

“Karena longsor ini sampai, sekarang juga tidak bisa mengalir lagi,” tuturnya. Sawah yang terdampak dari kejadian ini berada di Dusun Sidomukti dan Dusun Kluwihan.

Dijelaskannya, saluran irigasi ini mengaliri dua dusun diantaranya Dusun Sidomukti dan Dusun Kluwihan Desa Sidomukti. “Yang terdampak langsung lahan pertanian tersebut berada di Dusun Sidomukti. Luas lahan sekitar 30 hektare,” kata Rovik.

Saluran irigasi ini longsor karena diduga tidak bisa menahan debit air yang tinggi. Material longsor juga menimpa pipa saluran air bersih milik warga. Padahal pipa air bersih yang berada di jalur irigasi tersebut untuk memenuhi kebutuhan warga di tiga dusun, yaitu Dusun Sidomukti, Dusun Kluwihan, Dusun Gebog Desa.

“Ada sekitar 11 lahan pertanian milik warga yang terdampak langsung longsoran. Lahan pertanian itu ditanami cabai, loncang, buncis, tomat dan sawi, juga bunga mawar,” ujarnya.

Kepala Dusun Sidomukti Eko Sutrisno mengatakan, pada Senin (27/11), pipa air bersih sudah diperbaiki karena memang kebutuhan yang mendesak. Sementara saluran irigasi belum diperbaiki karena butuh dana yang besar.

Kepala Dusun Kluwihan Ahmad Damroji mengatakan, saluran irigasi yang tak mengalir tersebut mengundang masalah bagi para petani. Di antaranya petani tidak bisa lagi mencuci sayur hasil panen. “Semula kalau panen wortel, lonjang, bayem dan sawi, langsung dicuci di saluran irigasi yang telah dibagi. Sekarang ini, para petani harus mencuci hasil panenan di rumahnya masing-masing,” katanya. (ewb/ton)