Hoax Provokatif Semakin Marak

261

MAGELANG–Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menggandeng para pegiat media sosial (medsos) untuk memerangi berita hoax yang kini marak beredar. Utamanya, menghadapi pemilihan kepala daerah. Pemprov juga akan menguatkan peran dinas Kominfo se-Jateng untuk menangkal hoax.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Heru Sujadmoko, ditemui wartawan seusai diskusi memerangi hoax pada Selasa (28/11) lalu mengatakan, hoax saat ini dikemas menarik dan bombastis. Sehingga memikat para pembacanya, tanpa tahu fakta sebenarnya. Faktor inilah, kata Heru, membuat berita hoax terkadang lebih cepat tersebar dibanding berita fakta yang diproduksi media mainstream. “Orang lebih tertarik baca berita yang ada di medsos, karena kontennya sangat menarik. Inilah sebenarnya buruknya kita. Begitu baca langsung share (dibagikan) dan kebohongan menjadi terus berlanjut.”

Untuk itu, sambung Heru, pihaknya merasa perlu menggandeng komunitas penggagas medsos konten positif untuk bersama-sama mencegah maraknya hoax. Sebab, lanjut Heru, tugas ini bukan urusan pemerintah semata. “Masyarakat punya andil besar untuk turut memerangi.”

Semua pihak patut menyaring, sebelum menyebarkan berita apapun yang kebenarannya masih simpang siur. Terlebih, konten berbau provokatif yang bisa memicu terjadinya dinamika tidak sehat di tengah masyarakat. “Kita ingin mendekatkan pemerintah dengan kawan-kawan yang aktif di media sosial. Sebab, tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi menjadi dinamika yang tidak bisa dicegah dan berefek langsung terhadap situasi masyarakat pula.” Dengan melibatkan mereka, Wagub Heru berharap pemerintah terbantu. Utamanya, dalam memfilter konten-konten negatif media sosial.

Penggunaan media sosial, sudah diatur dalam UU ITE, pasal 27. Yaitu, mewajibkan seluruh masyarakat untuk menggunakan dunia maya dengan bijak. Pemprov Jateng, tutur peraih Anugerah Jawa Pos Radar Kedu 2016 ini, berencana menguatkan dan membentuk peraturan daerah agar lebih spesifik. “Kami memang belum memiliki naungan lembaga khusus, tetapi di bawah Kominfo, nantinya akan ada seksi yang khusus menangani hoax bekerja sama dengan para aktivis medsos.”

Salah satu konten hoax yang marak beredar dan akan terus beredar, kata Heru, adalah medsos yang digunakan untuk kepentingan politis. Isinya, provokasi atau menjurus ke hasutan. “Ini yang berbahaya, jika sudah sampai menghasut dan mempengaruhi publik terhadap kepentingan tertentu.” (cr3/isk)