Tukang Bangunan Juga Ikut Sertifikasi

958
SERTIFIKASI: Sejumlah tukang bangunan praktik membuat fondasi saat mengikuti ujian sertifikasi kompetensi di Universitas Tidar, Senin (27/11). (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)
SERTIFIKASI: Sejumlah tukang bangunan praktik membuat fondasi saat mengikuti ujian sertifikasi kompetensi di Universitas Tidar, Senin (27/11). (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)

MAGELANG – Sebanyak 300 tukang bangunan se-Kota dan Kabupaten Magelang mengikuti Uji Kompetensi Sertifikasi Tenaga Kerja Konstruksi tukang bangunan umum, Minggu-Senin (26-27/11) di Gedung Fakultas Teknik Untidar Magelang. Ujian ini dimaksudkan sebagai syarat utama dalam persaingan di industri konstruksi saat ini.

“Tukang bersertifikasi mempunyai nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan tukang tanpa sertifikasi. Seperti yang kita tahu, proyek-proyek besar membutuhkan tenaga tukang bersertifikat karena itulah syarat utama untuk mengikuti tender,” kata salah satu penguji dari Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK), Tohari, Senin (27/11).

Tukang bersertifikasi berpeluang besar memiliki penghasilan yang lebih besar dibandingkan dengan tukang biasa. Sertifikasi kompetensi yang dimiliki memungkinkan mereka mengikuti proyek-proyek besar dengan penghasilan menjanjikan. “Tukang bersertifikasi bisa kerja di luar negeri. Kemampuan atau skill mumpuni tanpa sertifikat, di luar negeri tidak akan laku. Sedangkan untuk di dalam negeri, pasti dicari,” papar Tohari.

Plt Ketua Jurusan Teknik Sipil, Muhammad Amin mengatakan, kemampuan dan ketrampilan dari seorang tukang hendaknya dilengkapi dengan sertifikasi dari suatu lembaga tertentu. “Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) setiap tukang harus memiliki sertifikasi kompetensi agar tidak kalah dengan tenaga asing yang sudah mulai ditemui dalam proyek dalam negeri,” jelas Amin.

Untuk praktik, kata Amin, peserta bersama-sama membuat fondasi saluran air di depan Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Setelah praktik, setiap peserta melanjutkan sesi wawancara dengan penguji. “Kemudian hasil penilaian penguji dijadikan acuan pemberian sertifikat kompetensi. Bagi yang tidak lolos atau memenuhi standar hanya akan mendapat sertifikat pelatihan dan dapat mengikuti uji ulang di kemudian hari,” jelas Amin. (cr3/ton)