Oleh: Duriatul Fatonah MPd
Oleh: Duriatul Fatonah MPd

GAGAP pendidikan karakter pada siswa  itulah yang saat ini dialam bangsa kita. Pola asuh dan pendidikan yang keliru, turut andil membentuk kegagapan pendidikan karakter siswa. Bahkan banyak sekali kemunduran sikap dan karakter luhur siswa. Padahal karakter positif sangat diperlukan oleh siswa di sekolah. Salah satu karakter siswa yang dibangun di dalam lingkungan sekolah adalah disiplin. Disiplin menjadi cerminan budaya di suatu tempat.

Disiplin di kelas sangat membantu kegiatan belajar mengajar. Di kelas yang para siswanya disiplin akan sangat mudah dikelola. Pembelajaran akan berlangsung sesuai dengan apa yang tertuang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Tetapi di kelas yang para siswanya kurang disiplin, pembelajaran akan  terganggu. Waktu yang sebenarnya bisa untuk menjelaskan bahan ajar, sering kali hanya digunakan untuk mengingatkan siswa. Akibatnya banyak waktu yang terbuang sia-sia.

Pelanggaran aturan oleh siswa tersebut biasanya disebabkan oleh keisengan siswa. Siswa belum menyadari jika yang dilakukan adalah sebuah pelanggaran. Misalnya siswa makan di dalam kelas saat pembelajaran berlangsung, terlambat datang pada saat pelajaran sudah dimulai,tidak membawa alat tulis sendiri sehingga ketika guru memerintahkan untuk mengerjakan tugas, siswa cenderung gaduh. Siswa meminjam alat tulis ke sana ke mari. Hal tersebut akan mengganggu kegiatan kegiatan belajar mengajar. Jika dibiarkan, siswa menjadi terbiasa melakuan tindakan gaduh tersebut.

Guru di kelas bisa mengelola kelas dengan menerapkan konsekuensi logis yang mendidik bagi para siswanya untuk memperbaiki kedisiplinan siswa. Konsekuensi logis yang mendidik bukan konsekuensi logis yang bersifat fisik. Maksudnya memukul,menendang atau mengejek siswa. Tetapi harus dapat membuat efek jera dan mempunyai nilai edukatif. Jelasnya, harus ada komitmen dan kesepakatan bersama guru dengan siswa.

Konsekuensi logis yang mendidik harus sesuai dengan kesalahan. Anak yang terlambat hadir lima menit kemudian dihukum sepanjang jam pelajaran tentu saja tidak selaras. Siswa yang makan pada saat jam pelajaran berlangsung akan jera ketika kemudian dihukum dengan menghabiskan makanan yang masih tersisa. Walaupun guru tidak mempermalukan siswa, otomatis siswa akan merasa malu dan tidak mengulanginya di lain waktu. Apabila ada siswa yang menyanyi atau bicara sendiri, guru bisa menghukum siswa dengan menyanyi di depan kelas ataupun menyampaikan ceritanya di depan kelas.

Konsekuensi logis harus adil, harus objektif. Konsekuensi logis tidak memendang siapa yang melakukan. Misalnya anak sendiripun harus dihukum seperti yang lain. Jika ada sekelompok siswa yang melanggar, maka Konsekuensi logisnya juga diberikan kepada sekelompok siswa, tidak hanya kepada satu dua orang saja. Biasanya kesalahan yang dilakukan oleh sekelompok siswa adalah piket kelas. Jika kelas kotor karena siswa yang piket tidak melaksanakan, maka seluruh siswa yang piket harus diberi konsekuensi logis dengan membersihkan kelas terlebih dahulu dengan tidak diberi perpanjangan waktu untuk menyelesaikan tugas. Disamping diberi konsekuensi logis membersihkan kelas juga dinasehati agar lain waktu melaksanakan piket sebelum Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dimulai. Agar tidak mengganggu KBM. Setelah dihukum dan dinasehati siswa akan mengerti dan tidak akan mengulangi kesalahannya.