Kampanye Cinta Budaya Lokal

389
BUDAYA LOKAL: Ketua Tembang Jiwa Jateng, Aris Kurnianto, memimpin acara dekarasi di Gedung Ki Narto Sabdo TBRS Semarang. (MIFTAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BUDAYA LOKAL: Ketua Tembang Jiwa Jateng, Aris Kurnianto, memimpin acara dekarasi di Gedung Ki Narto Sabdo TBRS Semarang. (MIFTAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Semakin lunturnya budaya lokal membuat sekelompok pemuda membentuk Komunitas Tembang Jiwa Jateng. Sudah dua tahun lebih mereka menggelar event rutin sebagai upaya melestarikan dan memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda di Jateng.

MIFTAHUL A’LA

KOMUNITAS Tembang Jiwa Jawa Tengah dibentuk sekelompok pemuda melihat fenomena semakin lunturnya budaya lokal di Jateng. Mereka berasal dari Semarang, Demak, Wonogiri, Salatiga, Banjarnegara, hingga Klaten. Salah satu penyebabnya, karena gempuran teknologi informasi, hingga generasi muda lebih senang dengan bermain gadget, menghabiskan waktu di mall, serta bermain game online.

“Itu salah satu faktor yang mendorong kami membentuk komunitas ini. Karena jika kondisi ini terus dibiarkan jelas budaya lokal akan tersingkirkan,” kata Ketua Komunitas Tembang Jiwa Jawa Tengah, Aris Kurnianto, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurut warga Jalan Villa Mulawarman 1 No 3 Jabungan, Banyumanik ini, anak-anak sekarang lebih senang bermain gadget daripada melihat pentas wayang orang. Padahal wayang orang merupakan aset berharga, dan merupakan kebudayaan di Jateng yang sangat dikagumi oleh banyak orang.

“Bayangkan saja sekarang kalau ada pentas wayang orang berapa yang melihat, itupun didominasi para orangtua. Anak-anak muda lebih suka nongkrong dan main game online,” ujarnya.

Sejak didirikan 2015 silam, komunitas ini terus melakukan berbagai upaya mengampanyekan cinta budaya lokal untuk generasi muda. Misalnya, dengan menggelar berbagai event penting, seperti Festival Suro, Festival Rebana, Festival Tembang Dolanan Anak, serta Festival Acapella.