DIBELI GRADER: Bupati Temanggung Bambang Sukarno mengunjungi salah satu pabrikan rokok perwakilan Temanggung, melihat tembakau rajangan yang akan dibeli oleh grader pabrikan tersebut, belum lama ini. (DOK JAWA POS RADAR KEDU)
DIBELI GRADER: Bupati Temanggung Bambang Sukarno mengunjungi salah satu pabrikan rokok perwakilan Temanggung, melihat tembakau rajangan yang akan dibeli oleh grader pabrikan tersebut, belum lama ini. (DOK JAWA POS RADAR KEDU)

Berbagai faktor turut mempengaruhi muncul tidaknya Srintil. Seperti ketinggian lokasi tanam di atas 800 mdpl, curah hujan rendah, suhu kering (panas), sinar matahari cukup, serta pemeliharaan tanaman dan proses pengolahan pasca panen yang baik.

AGUS HADIANTO

KEPALA Desa Legoksari Subakir mengatakan, curah hujan yang terlalu tinggi, bisa dipastikan bakal mengurungkan munculnya Srintil. Kades Subakir menegaskan, manusia tidak bisa merekayasa kemunculan Srintil. “Sekali lagi, Srintil adalah pulung atau keberuntungan.” Potensi daun tembakau akan menjadi Srintil atau tidak, baru diketahui setelah memasuki fase pengolahan pasca panen. Meski begitu, daun tembakau yang berpotensi menjadi Srintil, tentu berasal dari varietas unggul. Seperti Genjah, Kemloko 1, Kemloko 2, dan Kemloko 3.

Masih menurut Subakir, tembakau Srintil dengan warna hitam keemasan, memiliki aroma harum dan pekat. “Srintil muncul pada akhir panen, yakni tiga atau empat daun paling atas. Tidak semua tembakau bisa menjadi tembakau Srintil. Hanya di daerah tertentu yang bisa menghasilkan tembakau Srintil, seperti Legoksari ini.” Juwadi, petani tembakau Dusun Lamuk, Desa Legoksari menambahkan, saat dilakukan pemeraman, barulah diketahui daun tembakau yang berpotensi menjadi Srintil.

Ciri Srintil, daunnya berwarna kuning dan penuh dengan bintik coklat. Dalam waktu dua hari bintik coklat itu akan semakin meluas, sehingga sebagian besar daun tembakau menjadi berwarna coklat. “Daun itu, kalau ditekan keluar cairan lengket seperti minyak berwarna hitam pekat. Nah, itulah Srintil,” kata Juwadi.

Bagaimana dengan potensi munculnya Srintil saat ini? Subakir menuturkan, awalnya petani optimistis. Sebenarnya, pada masa akhir panen, tinggal tersisa daun tembakau berkualitas bagus. Gradenya F dan G. Artinya, masih bisa memunculkan Srintil. Namun harapan itu seketika sirna, dengan munculnya hujan yang terus-menerus mengguyur ladang tembakau. Tingginya curah hujan, membuat harga tembakau merosot.

JIka sebelum hujan harga sudah mencapai Rp250 ribu per kilogram. Maka, setelah hujan harga tinggal berkisar Rp 75 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram. Kendati demikian, beberapa tembakau dengan kualitas bagus, masih laku Rp 100 ribu per kilogram. Adapun harga tembakau Srintil terbaik pada 2015 lalu. Tembus mencapai Rp 1.250.000 per kilogramnya.