KAGUM : Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman kagum dengan barang-barang hasil penelitian dari dosen Unnes. (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)
KAGUM : Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman kagum dengan barang-barang hasil penelitian dari dosen Unnes. (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Penerbitan jurnal internasional dan penelitian terus dikebut oleh Universitas Negeri Semarang (Unnes) untuk mengejar internasionalisasi kampus. Caranya adalah mendorong dosen untuk melakukan penelitian dan penerbitan jurnal dengan target 500 jurnal pada 2018 mendatang.

Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman menegaskan setiap dosennya wajib melakukan minimal satu penelitian plus publikasi jurnal internasional. Apalagi Unnes memiliki sumber dana di lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP2M) sebesar Rp 18 miliar yang berasal dari dana Dipa Unnes dan Kemenristek Dikti. “Tahun ini targetnya adalah Unnes bisa menerbitkan jurnal internasional sebanyak 500 jurnal,” katanya usai mengunjungi seminar hasil penelitian, pengabdian, dan pameran produk unggulan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat (LP2M) Unnes, di Hotel Grasia Semarang, Senin (27/11).

Ia menerangkan kualitas sebuah perguruan tinggi bisa dilihat dari publikasi jurnal bereputasi internasional. Tahun ini setidaknya ada 340 jurnal bereputasi internasional yang terindek Scopus dan Thomson. Sementara pada 2016 hanya ada 260 jurnal dan tahun 2014 hanya ada 40 jurnal.  Untuk setiap fakultas dan program pascasarjana, kata dia, juga mengalokasikan masing-masing Rp1 miliar untuk penelitian sehingga total dana penelitian Unnes sudah sesuai standar minimal Dikti. “ Kami mewajibkan setiap dosen melakukan penelitian yang akan dikontrol melalui sistem beban kerja dosen yang harus dipenuhi oleh setiap dosen. Kalau tidak memenuhi mendapatkan teguran, bahkan remunerasinya tidak bisa cair sampai bisa memenuhi kewajibannya,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua LP2M Unnes Prof Totok Sumaryanto menjelaskan pihaknya sengaja memamerkan produk unggulan hasil penelitian dan pengabdian masyarakat. “Nanti dilakukan temu mitra untuk menyambungkan antara akademisi, government, dan business (ABG),” jelasnya.

Dari hasil-hasil riset tersebut, dipamerkan produknya agar bisa ditangkap mitra Unnes untuk komersialisasi, seperti industri dan dari dinas-dinas terkait. “Hari ini ada 15 stan pameran, harapannya hasil penelitian ini bisa dikembangkan secara massal,” pungkasnya. (den/ric)