NGURI-URI : Ketua Yayasan PGRI Sudharto (paling kiri), Rektor UPGRIS Dr Muhdi (dua dari kanan) saat menjadi pemain dalam pageleran wayang orang di di Balairung Kampus Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Senin (27/11) kemarin. (ADENNYAR WYAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)
NGURI-URI : Ketua Yayasan PGRI Sudharto (paling kiri), Rektor UPGRIS Dr Muhdi (dua dari kanan) saat menjadi pemain dalam pageleran wayang orang di di Balairung Kampus Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Senin (27/11) kemarin. (ADENNYAR WYAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pesatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), mencoba menyampaikan pesan kepada pendidik di Indonesia untuk menjadi seorang pengajar yang baik demi menghasilkan generasi bangsa yang baik, melalui pagelaran wayang orang. Kegiatan sebagai peringatan Hari Guru dan HUT ke 72 PGRI, itu dilaksanakan di Balairung Kampus Upgris, Senin (27/11).

Pergelaran wayang dengan cerita ”Sang Guru Sejati” ini selain dimainkan oleh tim dari Ngesti Pandowo juga diperankan oleh sejumlah pejabat PGRI Jateng, Rektor Upgris dan pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng. Dalam pentas tersebut Ketua PGRI Jateng Widadi menjadi Resi Kerpa, Ketua Yayasan PGRI Sudharto menjadi Resi Bismo, Rektor Upgris Muhdi menjadi Prabu Destarasta.

Rektor Upgris Dr Muhdi mengatakan jika pagelaran wayang orang tersebut sengaja diselenggarakan untuk melestarikan budaya asli Indonesia. Misi lainnya adalah bisa menularkan cara menjadi guru yang sejati dan bijaksana demi menghasilkan generasi bangsa yang baik dan berkualitas.

“Kami harap pesan dalam cerita wayang kali ini dapat diterima dengan mudah oleh mahasiswa,” katanya kemarin.

Ketua Yayasan PGRI Sudharto pun menyelipkan beberapa wejangan tentang peran PGRI untuk turut memajukan dunia pendidikan di Jateng.

“Di sini Begawan Durna punya murid Pandawa dan Kurawa, cara mendidik mereka sama namun pandawa punya niat agung, andap asor karena lebih sederhana. Sementara kurawa hasilnya kurang baik, jadi generasi yang baik bisa didapatkan dengan cara didik yang baik pula,” jelasnya.

Sementara itu, Sunarno salah satu anggota Ngesti Pandawa menerangkan jika dengan membawakan lakon wayang orang yang lebih santai seperti kemarin, akan membuat penonton tidak tegang karena mencerna cerita yang dibawakan dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia agar mudah dimengerti.

“Di sini saya harap pesannya lebih bisa diterima, selain itu juga bisa membuat generasi muda tertarik belajar wayang orang,” ujarnya.

Ketua Yayasan PGRI Sudharto menjelaskan jika lakon ”Sang Guru Sejati” adalah cerita dimana Pandita Durna yang mencoba menjadi guru bagi anak-anak Raja Hastina karena Kurawa dan Pandawa tidak rukun.  Dengan kemampuannya Durna mampu menunjukkan kepiawainnya dalam memanah dan ilmu kanuragan yang lain.

“Dengan ketekunan, niat tulus mendidik, kami harap bisa dicontoh oleh semua guru, tujuannya adalah demi mencerdaskan anak bangsa,” timpalnya. (den/zal)