KENDAL – Abrasi kawasan pantai di wilayah Kendal sepanjang 42 kilometer, mulai dari Kaliwungu  sampai Weleri semakin parah. Bahkan beberapa tempat ada yang sudah nampak parah abrasinya seperti wisata Sendang, Sikucing, Rowosari, Pantai Kartika Jaya Patebon dan pantai Ngebum, Desa Mororejo, Kaliwungu.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kab Kendal, Agung Setiawan, upaya mencegah abrasi memang sudah dilakukan. Namun belum maksimal dan bisa menyeluruh. Diantarnya seperti menanam mangrove dan membuat sabuk pantai di beberapa titik abrasi.

Sabuk pantai yang sudah terealisasi paling tidak sekitar dibutuhkan sepertiga (14 kilo meter) dari panjang pantai di Kendal. “Tapi di wilayah pantai Kendal, searang ini baru ada 4,5 kilometer,” katanya, kemarin (27/11).

Diakuinya,  4,5 kilometer sabuk pantai yang sudah dibangun berada di tiga tempat. Yakni di Sendang Sikucing, Kartika Jaya dan Mororejo. “Kami tempatkan di titik terparah. Karena akibat abrasi, banyak tambak yang terendam air laut,” jelasnya.

Pihaknya mengaku terus mengusulkan pembangunan sabuk pantai ke pusat. Namun hingga kini belum jawaban. Sebab pembangunan sabuk pantai menurutnya bukan wilayah kewenangan daerah, melainkan Pemerintah pusat.

Kepala Pelaksanaan Harian BPBD Provinsi Jateng, Sarwa Pramana mengatakan, abrasi di wilayah Kendal belum terlalu parah. Namun upaya pencegahan terus dilakukan, sehingga Kendal merupakan salah satu dari 136 Kabupaten di Indonesia yang mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat dalam Program Gerakan Penanggulangan Risiko Bencana. Salah satunya dengan mengadakan Sekolah Laut.

Salah satu kegiataan Sekolah Laut adalah Aksi Tanam Seribu Mangrove yang bertujuan untuk mencegah abrasi yang dilaksanakan November 2017.   “Abrasi laut di Kendal memang tidak begitu parah, seperti Pekalongan dan Rembang. Aksi tanam magrove ini untuk mencegah abrasi,” katanya.

Kepala BPBD Kendal, Sigit Sulistyo mengatakan, Sekolah Laut di Desa Kartika Jaya merupakan percontohan di Kendal. Kegiatan Sekolah Laut yang melibatkan masyarakat setempat ini diikuti dengan pembentukan relawan peduli lingkungan. “Para relawan ini nantinya akan menjadi penggerak bagi masyarakat untuk menanam, menjaga dan memelihara tanaman mangrove ini,” harapnya. (bud/bas)