Membaca Tingkatkan Menulis Narasi Berbahasa Jawa

611
Oleh: Karni  SPd
Oleh: Karni  SPd

latin narasi berbahasa Jawa ragam krama itu lebih sulit dibanding menulis latin narasi berbahasa Indonesia. Menulis latin berbahasa Jawa ragam krama perlu media yang bisa mempermudah siswa dalam menulis latin berbahasa Jawa ragam krama. Salah satu media yang digunakan yakni media membaca.

Kemampuan menulis berbahasa Jawa siswa SMP sekarang masih rendah. Hal ini terbukti adanya kesulitan yang dialami siswa  dalam menulis narasi berbahasa Jawa ketika guru memberi tugas. Kesulitan ini tampak pada penerapan ejaan, pemilihan kata, dan penyusunan kalimat.

Menurut Heru Susanto, membaca adalah suatu kegiatan berbahasa untuk memahami lambang – lambang bunyi  bahasa yang tertulis baik tersurat ataupun tidak dalam memahami informasi yang disajikan. Jenis membaca yang digunakan sebagai media menulis narasi, yakni membaca pemahaman intensif. Membaca pemahaman adalah membaca yang bertujuan  memahami bacaan secara tepat dan cepat.

Penerapan atau pemakaian Bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari itu lebih sulit karena Bahasa Jawa ada unggah – ungguh-nya. Pemakaian Bahasa Jawa ada krama inggil, ada mudha karma ,ada wredha karma, ada ngoko alus ada ngoko lugu. Pemakaian bahasa juga berbeda – beda. Misalnya, kita akan berbicara dengan orang yang terhormat, kita menggunakan bahasa krama inggil. Kita mau bicara dengan orang yang lebih muda, bisa memakai bahasa ngoko jika yang kita ajak bicara sudah akrab. Ngoko alus digunakan untuk berbicara orang yang sebaya tetapi saling menghormati.

Dalam unggah – ungguh bahasa krama inggil tidak boleh diterapkan dalam diri kita . Misalnya, kata kerja yang tidak dapat dipakai untuk diri sendiri “dhahar “ yang berarti makan. ”ngunjuk“ yang berarti minum,  “tindak“ yang berarti pergi, ”siram“ yang berarti mandi, “sare“ yang berarti tidur, “wungu“ yang berarti bangun, ”gerah“ yang berarti sakit, dan masih banyak lagi.

Penerapan bahasa krama untuk diri kita sendiri memakai bahasa krama madya misalnya ”kula nedha” yang berarti saya makan. Kula ngombe” yang berarti saya minum. Kula kesah” yang berarti saya pergi. Contoh bahasa krama yang berupa kalimat,  misalnya ”Kula  boten mlebet sekolah amargi sakit. Yang artinya, saya tidak masuk sekolah karena sakit.  Kalau bahasa krama untuk orang lain dan lebih tua, misalnya “Bapak boten tindak kantor amargi gerah. Arti kalimat tersebut, bapak tidak masuk kantor karena sakit.