KENDAL-Pertanian bidang tebu di Kabupaten Kendal saat ini berkurang drastis. Dari data gang ada petani yang masih mengolah lahannya dengan tanaman tebu berkisar 300 hektare dari total 800 hektare.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APRTI) Kendal, H Tardi mengatakan jika menyusutnya pertanian tebu di Kendal karena petani tebu merugi jika tetap mengolah lahannya dengan tanaman tebu. “Dulu ada pabrik gula Cepiring yang masih beroperasi, jadi jualnya gampang. Kalau sekarang agak susah,” katanya kemarin.

Menurutnya, dari total 800 hektare lahan yang ditanami tebu kini hanya tersisa 30 persen saja atau kurang lebih sekitar 300 hektare. Petani sendiri lebih memilih menanam palawija ataupun ketela. “Kondisi ini semakin diperparah dengan kebijakan pemerintah terkait harga gula,” jelasnya.

Dengan tidak berpihaknya kebijakan pemerintah terkait harga gula, lanjut dia, tidak menutup kemungkinan tahun depan di Kendal bahkan di Jawa Tengah, tidak ada lagi petani yang menanam tebu. “Pasalnya biaya produksi mengolah tanaman tebu terus naik, sementara harga gula tidak bisa melebihi dari kebijakan pemerintah yang rendah,” ucapnya.

Ia menjelaskan PT Industri Gula Nusantara (IGN) Cepiring sudah dua tahun berhenti beroperasi. Pabrik gula ini sebelumnya menerima pasokan tebu milik petani kendal namun sejak berhenti beroperasi nasib petani tebu semakin terpuruk.”Petani kebingungan kemana akan jual sejak pabrik gula tutup kami petani tebu memang kebingungan, tapi alhamdulillahnya hutang pabrik gula sudah terbayarkan ke petani,” pungkasnya. (den/ida)