JAJAL KUDA LUMPING : Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, coba memainkan kesenian kuda lumping saat Sedekah Turonggo Bhumi Pala di Lapangan Gondangwinangun, Ngadirejo, Temanggung. (istimewa)
JAJAL KUDA LUMPING : Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, coba memainkan kesenian kuda lumping saat Sedekah Turonggo Bhumi Pala di Lapangan Gondangwinangun, Ngadirejo, Temanggung. (istimewa)

TEMANGGUNG- Jathilan atau kuda lumping para masa gubernur terdahulu, sempat disebut kesenian terburuk di dunia. Namun di era Gubernur Ganjar Pranowo pamor kesenian jaran kepang ini kembali menggeliat.

Dengan kemasan kolosal, kesenian ini punya potensi besar menarik minat wisatawan. Buktinya pada pagelaran 1000 kuda lumping dalam Sedekah Turonggo Bhumi Pala di Lapangan Gondangwinangun, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Sabtu (25/11).

Seribu kuda lumping tampil bersama. Menghadirkan pentas atraktif dalam balutan musik rancak yang mengundang siapapun untuk ikut menari bersama.

Tak kecuali Ganjar sendiri yang kemarin hadir. Ia bahkan ikut terjun ke lapangan yang becek usai diguyur hujan itu. Mengenakan kostum penari ia berjingkrak-jingkrak selama satu jam bersama ribuan pelaku seni tradisi. Tangan kirinya memegang erat kuda lumping, tangan kanannya menggenggam cambuk yang sesekali ia hantamkan ke bumi. Cetaaarrr..!

Tepuk tangan riuh dihadiahkan ribuan warga yang menyaksikan gubernur mereka menari. Ribuan kamera telepon seluler diarahkan kepada Ganjar untuk mengabadikan momen langka tersebut.

“Luwes sekali ya Pak Ganjar jogetannya juga pas sekali, baru tahu ternyata pinter ‘njathil’,” kata Sutarti,36, salah satu penonton.