BERCERITA : Festival Anak Amurt Indonesia yang mengajak orang tua bercerita pada anaknya ini digelar di halaman Setda Pemkab Demak, Minggu (26/11) kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERCERITA : Festival Anak Amurt Indonesia yang mengajak orang tua bercerita pada anaknya ini digelar di halaman Setda Pemkab Demak, Minggu (26/11) kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK-Penggunaan metode pembelajaran, orang tua bercerita kepada anaknya sendiri di rumah, kini semakin surut. Ini terjadi seiring dengan minimnya tradisi membaca buku oleh orang tua.

Demikian disampaikan Manajer Ananda Marga Universal Relief Team (Amurt) Indonesia, Haryono di sela Festival Anak yang berlangsung di halaman Setda Pemkab Demak, Minggu (26/11) kemarin. Menurutnya, pendidikan anak tidak melulu menjadi tanggung jawab sekolah. Namun, dalam proses pendidikan ini, orang tua berperan membentuk karakter anak. Di antaranya melalui kegiatan gemar membaca buku.

“Untuk usia anak PAUD, anak dilarang membaca. Karena itu, dalam proses pendidikan, orang tua yang harus lebih aktif membaca buku lalu bercerita kepada anaknya. Ini di kemudian hari, dengan sendirinya anak-anak akan tergerak untuk membaca buku,” katanya.

Dia menuturkan, Amurt Indonesia telah membagikan sebanyak 5 ribu buku dengan total 440 judul ke-46 sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Semarang dan Demak. Buku-buku tersebut dapat dipinjam orang tua siswa untuk dibawa pulang agar dibaca dan isinya diceritakan pada anaknya.

“Buku-buku tersebut dibagi dalam tas. Masing-masing tas berisi dua buku. Antara buku satu dengan buku lainnya berbeda judul. Buku-buku yang berbeda judulnya ini akan dibaca orang tua dengan cara dirolling atau bergantian antara orang tua satu dengan orang tua lainnya,” katanya.

Menurutnya, petugas akan mengecek apakah buku-buku tersebut dibaca para orang tua dan diceritakan isinya pada anaknya atau tidak. Karena itu, festival anak yang digelar Amurt tersebut menjadi ajang para orang tua untuk menceritakan isi buku pada anaknya.