Oleh: Dwi Handayani SPd
Oleh: Dwi Handayani SPd

BAHASA Jawa merupakan bahasa ibu di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bahasa Jawa diyakini dapat menunjukkan jati diri seseorang. Hal tersebut dimaksudkan bahwa Bahasa Jawa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Jawa berbeda dengan bahasa daerah lain. Bahasa Jawa memiliki tingkatan dalam berkomunikasi. Tataran bahasa atau unggah-ungguhing basa yang terlihat dalam berkomunikasi adalah kata-kata yang disusun menjadi kalimat. Kalimat tersebut disesuaikan dengan orang yang dihadapi.

Selama ini pembelajaran dan pemasyarakatan Bahasa Jawa belum maksimal. Meskipun pemerintah telah mengakui bahasa daerah. Bahkan sudah memiliki payung hukum sebagai pedoman dalam pelaksanaan pemasyarakatan Bahasa Jawa. Seiring dengan pergeseran peradaban yang berkiblat pada media digital, maka pembelajaran Bahasa Jawa harus merambah pada media yang saat ini disukai siswa.

Selain itu, masyarakat Jawa juga berkomunikasi menggunakan alat. Alat yang digunakan adalah surat. Sebuah kertas ditulis yang berisikan pesan-pesan. Kertas dimasukkan amplop dan dikirimkan lewat kantor pos. Surat tersebut akan tiba di tempat tujuan setelah beberapa hari. Pesan tidak dapat tersampaikan dengan cepat. Selain itu, balasannya juga membutuhkan waktu beberapa hari juga.

Era tahun 2000-an muncul teknologi baru yang berupa handphone (HP). Handphone bisa digunakan untuk telepon. Pesan suara dapat tersampaikan dengan cepat. Selain itu, pesan melalui tulisan dapat tersampaikan dengan cepat. Balasan dari pesan tersebut juga dapat diterimadengan cepat. Pengguna diwajibkan memiliki kartu sim handphone (sim card) yang dipasang di dalamnya.

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) mengalami perkembangan yang pesat. Terutama teknologi yang dapat dirasakan pada saat ini. Gaya hidup masyarakat yang menuntut agar serba cepat dalam mendapatkan sesuatu. Contohnya masyarakat dalam berbelanja, pencarian informasi berita terkini, dan pencarian alamat suatu tempat.

Siswa mengalami kesulitan dalam pembelajaran di sekolah, khususnya mata pelajaran Bahasa Jawa. Kata-kata berbahasa Jawa dianggap asing. Hal tersebut dikarenakan siswa berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia. Mereka menganggap berbahasa Indonesia lebih aman digunakan daripada menggunakan Bahasa Jawa. Perbendaharaan kata-kata  Bahasa Jawa yang kurang, sehingga siswa tidak menggunakan Bahasa Jawa untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.