JALAN HIDUP : Kegemarannya pada estetika membuat Puguh mengambil spesialis kulit dan kelamin. (Istimewa)
JALAN HIDUP : Kegemarannya pada estetika membuat Puguh mengambil spesialis kulit dan kelamin. (Istimewa)

Puguh yang kini menjadi Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Kota Semarang ini menyatakan bahwa sebetulnya spesialis kecantikan itu tidak ada. Namun, yang sebenarnya adalah Spesialis Kulit dan Kelamin yang di dalamnya berkompetensi dalam hal merawat kecantikan.

Puguh juga akan menegaskan kepada anggotanya melalui sosialisasi dimana anggota Perdoski harus dapat menjalankan profesinya secara maksimal dan tidak sewenang-wenang. Pasalnya banyak dokter umum yang kemudian mengaku-ngaku sebagai dokter kecantikan dan meragukan profesi dokter Sp.KK itu sendiri.

“Sosialisasinya ke anggota Perdoski, bahwa kompetensi kita itu adalah milik kita sendiri, jangan sampai diambil alih oleh orang selain kita. Dalam arti kita tidak boleh melatih mereka (dokter umum) untuk menyamai Sp KK, karena bukan kompetensinya,” terang dia.

Pasalnya, selama ini masih banyak anggota Perdoski yang bandel dan memberikan pelatihan kepada dokter umum terkait kosmetik dan estetik. Padahal untuk menjadi dosen pengajar juga harus melalui kompetensinya. Kemudian, dokter umum yang mendapatkan pelatihan itu merasa telah memahami dan kemudian mengaku sebagai dokter kecantikan.

Puguh juga mengharapkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) harus tegas, bahwa masing-masing kompetensi itu ada aturannya. Misalnya terkait kosmetik dan estetik itu miliknya Sp KK, jangan sampai praktik-praktik diluar kompetensi dibiarkan. “Karena kalau dibiarkan juga namanya pembodohan masyarakat, mereka tahunya klinik itu dokter kecantikan, di dalam ruang periksa pun dia mengatakan ‘saya adalah dokter kecantikan’ padahal tidak,” tegasnya.

Pihaknya juga berencana membuat program pengabdian masyarakat dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan tingkat kesehatan kulit dan kelamin masyarakat. Selain itu, ke depan akan mencoba memberi penjelasan yang benar mengenai kehadiran dokter estetika, sehingga masyarakat memiliki pemahaman yang betul. “Dokter estetika itu tidak ada nomenklaturnya dalam pendidikan kedokteran. Itu hanya istilah awam untuk dokter umum yang menekuni bidang estetika,” tuturnya.